Monday, May 31

Monday, May 31, 2010 - No comments

~ Tak Peduli ~

@40135, don't care even i knew.




Kubutakan mataku kini,
biar lebih jelas kulihat kau nanti.


Telingaku jadi tuli saja,
sebab hanya kau yang kupercaya.


... lagipula seringkali begitu mudahnya panca indera bisa menipu dan ditipu.



Wednesday, May 26

Wednesday, May 26, 2010 - No comments




There is a thin line 
between Understanding and Unconcern
when someone says, "Sorry." and you reply, "Doesn't matter."



Sunday, May 23

Sunday, May 23, 2010 - No comments

~ How Does It Feel to Be a Joker? ~

@40611, empathy is when you've been there done that and in therapy for it.




feminis lugere honestum est, viris meminisse.
Then I shall be the woman remembering her man whose forgotten,
and he shall be the man bearing his woman's grief.



Saturday, May 22

Saturday, May 22, 2010 - No comments

~ Berhenti Bermimpi ~

@40161, setelah sekian lama.




Cala Ibi (Nukila Amal, 2003)
Lalu bapakmu akan berkata, "Bintang tak pernah secantik tampakannya, tak sedekat yang kita duga. Ia cuma penghias panas malam para pemimpi." 
Tapi aku mau terbang. Aku mau menyentuh bintang.


Lalu anakmu akan berkata, "Akan kutukar sepasang dengan seorang, Papa. Mungkin benar katamu tentang aku yang pemimpi dan banyak membuatmu sakit hati."
Aku mau jatuh saja. Asal kau cepat sembuh seperti semula.



Thursday, May 20

Thursday, May 20, 2010 - No comments

~ Handling My Worst ~

@40161, monsternya insyaf. nyengir khilaf.




Suatu ketika, aku menjelma babi hutan buta dengan luka menganga.
Meradang. Menerjang. 
Kencang. Tegang.


Agar dunia tahu,
aku sakit hati lantas sempat memilih mati.


Dan lagilagi...
waktu.
Selalu tak terbantahkan dalam membebat ngilu.


Hidup tampak jauh lebih menyenangkan di belakang sana. Tentu saja, Zeta... tentu saja.
Sebab kau berhasil melewatinya.
Dengan darah dan air mata.


Sementara semua kesakitan yang kupantulkan pada mereka yang tersayang:
kekasihku, sahabatku, keluargaku, pun diriku.
Tetap tinggal. Membekas jelas.


Untuk itu, 
hanya dapat kuucap "maaf" dan "terimakasih".
Kalian tetap bertahan, bahkan ketika aku muak pada diriku yang demikian menyebalkan.


Aku sayang kalian. Sungguh. Selalu.



Wednesday, May 19

Wednesday, May 19, 2010 - No comments

~ Ngersulo ~

@40161, timbang ndagel alungan sisan beleh'en ae.




Gusti... 
urip njaluk enak
kok malah dipulosoro 
sawangane ga ono entek'e.



Wednesday, May 19, 2010 - No comments

~ Another Turn ~

@40161, cuma bisa bilang "nggak" tanpa tahu aku bakal bilang "iya" ke apa.




I keep saying "no" to those who would like me to say "yes"
... without even knowing why.


Good Lord,
only you and I know my readiness to fight in another battle.
At least, give me signs so I can prepare myself: to breathe, to think, to feel, to be.


I am not afraid of commitment. I'm just afraid of being committed to the wrong person.
(or maybe I'm just even afraid of being not committed at all)



Wednesday, May 19, 2010 - No comments

~ Skeptis ~

@40161, babi hutan buta mulai kesakitan setelah nyeruduk kemanamana.




Malam ini di jalan kusempatkan tengadah
... langit memajang bulan setengah.


Aku bahkan tak tahu lagi
apa kita masih berbagi langit yang sama untuk dipandangi,
apa kita masih berdiri di titik yang sama untuk mencintai,
apa kita masih berjalan ke tujuan yang sama.


Aku tak tahu. Aku tak mau tahu.
Tidak saat ini. 
Saat semuanya terlalu sedih dan pedih untuk diinderai.
Tahukah kau? Maukah kau tahu?


Bentangan jarak. Emosi negatif.
Apakah bentangan jarak menciptakan emosi negatif?
Ataukah emosi negatif memunculkan bentangan jarak?


Aku lelah.
Sudahkah kau juga?


Sebab bila iya, untuk apa lagi kita berdua di jalan yang tak lagi sama?



Tuesday, May 18

Monday, May 17

Monday, May 17, 2010 - 1 comment

~ Suicidal Memo ~

@40161, masih di sudut yang sama.




Tidak.
Aku belum bangkit.


Kulihat urat di pergelangan yang menyembulnyembul. Terbayang semua luka, semua darah, semua tangis, semua airmata. Mendadak nadiku jadi terlihat cukup tipis untuk diiris sambil menuntaskan tangis.


Kukatakan padamu,
orang lain hanyalah perpanjangan tanganku untuk menyiksa dan menyakiti diriku sendiri.



Friday, May 14

Friday, May 14, 2010 - No comments

~ Unanswered ~

@40161, when you're in despair you tend to say, "it's not fair."




Waktu berlalu.
Menahun kutunggu.


Bagaimana rasanya jadi istri?
Dicinta dan dimengerti.
Bagaimana rasanya jadi bunda?
Diandalkan dan dipuja.


Aku tak tahu. Itu belum lagi jadi duniaku.
Sampai kini, aku
... mencukupkan diri dan tak meminta lagi.



Wednesday, May 12

Wednesday, May 12, 2010 - No comments




Victory does not lie in how hard you can hit,
but in how hard you can take the hit.



Wednesday, May 12, 2010 - No comments

[sing] Undress Me - Anggun

@40161, setelah meledak dari sesak.




When I can't see right in your eyes. When I'm surrounded in the craziness of time. When your understanding, is trying hard to stand still. When I wear layers of my pride, you should... undress me, undress me. Unlock this chain and set me free. Remind me to be myself. Undress me, undress me. Unleash my heart and make me see, when I become someone else.
Whenever I'm trapped in this tide. When I forgotten that there is YOU and I. When your persuasion is fighting in a blindfold. When I wear my bad moods to my mouth, you should... undress me, undress me. Unlock this chain and set me free. Remind me to be myself. Undress me, undress me. Unleash my heart and make me see, when I become someone else.
Like a rose without its thorn. Like a bird without a song. Like the fire without the flame. If there's a painless love, we wouldn't be the same.
Undress me, undress me. Unlock this chain and set me free. Remind me to be myself. Undress me, undress me. Unleash my heart and make me see. When I become someone else.



Monday, May 10

Monday, May 10, 2010 - No comments




Tidakkah kau benci pada air mata yang mengalir satusatu,
butir demi butir,
seolah menegaskan kesakitanmu?


Tidakkah kau benci melihat dirimu bersedih hati?
Tidakkah kau benci tenggelam dalam genangan air mata yang tiada habisnya?


Tidakkah kau benci?!



Monday, May 10, 2010 - No comments

~ Shattered ~

@40161, pieces by pieces.




I screamed.
I yelled.
I cried.


For you to hear. For the first time.


So I hope you know how to take us more seriously.
Because I'm only human, anyway.



Monday, May 10, 2010 - No comments

~ No Relation in A Relationship ~

@40161, perempuan yang ditinggalkan.




Sabtu malam:
"Malam ini aku ingin denganmu." 
Baru jam delapan. Aku tibatiba menunggu, dan deadline tak lagi nomer satu. Ini malam Minggu, hujan seharian cukup membuatku mengangankan pelukmu. Seperti mimpi aku menyambutmu. Pulang adalah kata yang langka bagi petualang sepertimu. Tapi tak urung kita berdekapan berciuman... entah sampai kapan. Aku tak mau tahu tentang waktu. Sebab waktu biasanya merampas para lelakiku tanpa kenal belas kasihan. Tak peduli aku tertinggal sendirian. 
"Esok pagi aku tidak tergesa pergi. Tidak lagi."


Aku tersenyum (terjemahan manual book sepertiga jadi, senandung meditasi Buddha dan Sufi, vodka Vibe, The Time Traveler's Wife, Facebook, Gibran dan Rumi, Alvin and The Chipmunk Squeakquel, pesan antar Mc'D, separuh Cash, pijat punggung karena kembung... dan kau masih di sini).


Minggu siang:
"Selamat pagi."
Matahari sudah tinggi. Hampir tepat di atas kepala ketika kita terjaga. Ini Minggu, layak untuk dinikmati seharian di kamar saja. Aku bangun linglung karena tak biasanya kau ada. Biasanya kau sudah pergi ketika angin bahkan belum bertiup ke Selatan. Menguapkan mimpimimpiku yang semalam belum genap. Membuatku tak berani berharap. Sebab kau tak menetap. Bahkan sekedar sarapan berdua pun jadi hal langka bagi kebersamaan kita. Teganya waktu yang menggilas kita tanpa kenal ampun. Teganya hidup yang memaksa kita bertahan dalam kesendirian, jauh dari masingmasing.
"Mau kemana kita hari ini?"


Aku tersenyum (kopi dobel tak tandas, Facebook, roti panggang salted-butter, sup makaroni, Yakult, Diatabs, separuh Cash lagi, alunan Celtic Sanctuary dan Natural Therapy, seperempat The Hangover, tidur sore, susu kaleng, luka gores di telunjuk kanan, terjemahan manual book tak tersentuh... dan kau masih di sini).


Minggu malam:
"Ada yang tertinggal."
Jam delapan malam di hari berikutnya. Senyumku hilang dan berganti. Sudut mulutku datar pada awalnya, lalu mengerucut dan kau sadari. Tapi kita tak pernah berteman akrab dengan waktu. Tak bisa seenaknya minta diskon spesial karena kita pelanggan baru. Harusnya aku memang tak pernah beranganangan tinggi. Sebab tinggi sakit jatuhnya nanti. Dan pahit itu kutelan sendiri, bersama asap yang mengabur pelan karena kau pergi, lagi. Aku perempuan, yang kembali ditinggalkan.
"Kau tahu bagaimana rasanya jadi aku."


Aku menangis (terjemahan manual book tinggal separuh, seafood D'Cost bersama batal, Blind tak jadi, Gokana penuh sekali, Treehouse tak baik buat spekulasi, Combo Teppanyaki dan Steak, jus melon segar, teh tawar peredam mulas, percakapan profesi... dan kau sudah tak di sini).


"Tidak! Aku tidak tahu! Aku tidak mau tahu!"
Begitu aku teriak pada malam yang mendadak dingin ketika kau tak ada.
Kulirik sekilas terakhir kalinya, 
kotak rokok kita berjajar di meja: Lucky Strike Menthol dan Lucky Strike Filter.



Sunday, May 9

Sunday, May 09, 2010 - No comments




Being grateful
(at this very moment)
turns me into someone who
has no desire to dream much anymore.



Saturday, May 8

Saturday, May 08, 2010 - No comments

~ Malam Terakhir Pesisir ~

@40161, kita berdua saja dan biar mereka berkata apa.




Kau kudekap, tetap.
... meski warnamu campur aduk berkeriap.
Kau kudekap, tetap.
... terutama ketika dunia terlalu bising dan segala anomali berubah asing.
Kau kudekap, tetap.


Aku memelukmu.
Kau tahu... aku memelukmu.


Dan malammalam sunyi jadi penanda tiap doa yang kubisikkan hingga pagi tiba.
Semoga kita bahagia berdua.


Lainnya? Acuhkan saja. Seperti biasa.



Friday, May 7

Friday, May 07, 2010 - No comments

~ Mimpi Buruk ~

@40161, merinding di pagi hening.




Ternyata semalam itu malam Jumat Kliwon. 
Lebih parah daripada malam Jumat Legi, kalo menurut mitos Jawa. Budhe (panggilan untuk kakak perempuan ayah/ibu) yang bilang begitu waktu aku telpon pagi ini.


Semalam aku mimpi buruk. Mimpi Mbah Uti (panggilan untuk nenek). Mimpi Mbah Uti mati.
Ya... mati. Bukan meninggal. Sebab meninggal lebih manusiawi. Sedang yang kumimpikan semalam tidak layak terjadi.


Padahal dalam dunia nyata, beliau segar bugar. Begitu kata Mama dan Budhe pagi ini lewat telpon, ketika aku langsung mengecek kondisi beliau. Sekedar meyakinkan bahwa itu cuma mimpi. Bunga tidur. Tak ada kaitannya dengan firasat Mbah Uti kondur*.


Aku ingat jelas.
Awalnya aku mimpi jadi anak badung ketika pertama kali pindah sekolah. Ngerjain guru tapi sekaligus disayang semua orang karena otakku cemerlang.
Akhirnya aku mimpi kekasihku akan pergi naik gunung. Aku yang packing kebutuhannya. 
Tengahnya? Ya itu tadi. Mbah Uti mati. 


Setting tempat : rumah Mbah Uti di Mojosari. 
Setting waktu : langit gelap... mungkin senja, mungkin malam, mungkin dini hari.
Tokoh : Mbah Uti, bapak beruban, beberapa pembantu, aku, adik bungsuku yang sekarang tinggal dengan Pakdhe (panggilan untuk kakak lakilaki ayah/ibu).
Mbah Uti sampun sedha. Mbah Uti sudah meninggal... sekitar dua atau tiga minggu lalu. Anehnya, beliau belum dikuburkan dan justru didudukkan di kursi ruang tamu dalam kondisi masih dipocong kain kafan. Membelakangiku, ruang tamu gelap. Duduk di depannya, bapak beruban yang memanggilku dengan panggilan rumah, "Kakak..." Kontan aku berlari ke belakang** dan memanggil para pembantu untuk mengangkat Mbah Uti dan segera menguburkan beliau. Waktu diangkat, ya iya lah... bau daging busuk berumur sekian minggu (maaf, aku ga tega bilang 'bau bangkai'). Kutanya adik bungsuku yang menempati kamar paling depan di dekat ruang tamu***, dan dia bilang memang dia tahu Mbah Uti kondisinya begitu tapi dia ga bilang siapasiapa. 


Masya olooohhh... Gusti nu urang...
"Linglung pulak rupanya otak kau itu, wak!" mungkin begitu akan kumaki adik bungsuku saking gemesnya. Untung mimpiku berlanjut dan beralih topik.


Aku terbangun. Ternyata semalam memang malam Jumat Kliwon.  




* : arti harfiah dari kondur (bahasa Jawa) adalah pulang. kata ini dapat juga digunakan sebagai istilah 'pulang' ke Sang Pencipta.
**, *** : struktur rumah Jawa biasanya berbentuk memanjang ke belakang. terdiri atas 3 bagian utama (ruang tamu, kamar tidur dan agak mendekati dapur ada ruang makan, dapur) yang tiap bagian dipisahkan dengan pintu bukaan ganda. kamar mandi dan sumur, kalau ada, biasanya ada di samping belakang rumah. 



Thursday, May 6

~ Sederhana ~

@40161, malu aku malu.




Aku malu pada ketabahanmu menjalani hidup:
menerima semua siksa, 
menghalau semua galau,
merengkuh semua musuh.


Dan pada saat yang bersamaan,
engkau padaku masih bisa berkata cinta... kapanpun aku meminta.


Aku malu karena aku seringkali tidak bersyukur dan berbangga
atas engkau dan segala perasaan kecukupanmu yang demikian bersahaja.


Sekali ini saja
(dan mudahmudahan masih ada kali lainnya)
dimana aku bisa merengkuhmu dengan tenang, 
tanpa perlu meradang, 
tanpa perlu bersitegang


... dan berkata pelan, penuh perasaan,
bahwa aku padamu pun cinta. 
Yang sahaja saja.
Tak perlu bermegahmegah. Tak perlu bermewahmewah.



Wednesday, May 5

Wednesday, May 05, 2010 - 4 comments

~ Peti Harta Karun ~

@40161, membongkar debu masa lalu.




Pagi ini, kutemu sebuah kotak di sudut mati kamarku. 
Ada namaku bersama labelnya: novel, kumpulan cerpen, antologi puisi. 


Sudah lama ingin kubuka, karena aku tahu pasti itu adalah sebagian koleksi buku milikku yang memang sengaja kupisahkan. Tidak untuk dipaketkan kemanamana. Tidak untuk disimpan di gudang rumah orang tuaku dan menambah debu yang mungkin membuat Mama kumat asma.


Bukan karena aku menyayangi bukubukuku sama seperti aku menyayangi filmfilmku. Bukan karena aku belum tamat membaca semua tulisan itu. Bukan karena aku pengagum berat novelis, cerpenis, dan penyair yang menulis bukubuku itu.


Aku cuma ingin menyimpan semua kenangan perasaan...
Sebab aku punya kebiasaan. Pada halaman depan, akan kutemui kembali tiap rinci penghayatan yang biasanya akan jadi sebaris atau sebait catatan. Dan catatan pada tiap halaman depan bukubuku itu yang jadi saksi bagiku: betapa aku menangis, betapa aku tertawa, betapa aku terluka, betapa aku mencinta, betapa aku membenci, betapa aku... punya perasaan sebagai manusia.


Dan itu sebabnya, pagi ini, 
aku bertingkah jadi bajak laut untuk membongkar peti harta karunku.
Terserak di lantai: sekian puluh buku dari sekian ratus penulis dengan sekian ribu judul. Bahasa mengepul... dari frase, kata, kalimat, bait, paragraf, bab. 


Aku kalang kabut. Efeknya gilagilaan. Nafas kembang kempis antara menahan senyum atau menahan tangis. Membaca semua kenangan, mengingat semua perasaan, dan tergeletak hampir pingsan karena serbuan panik dadakan. 


Lucu... karena aku tersadar itu semua hanya masa lalu. Sebagaimana aku jatuh, demikian pula aku bangkit. Tidak selalu langsung berlari, tapi paling tidak aku melangkah pergi.



Sunday, May 2

Saturday, May 1

~ Segila Cintanya ~

@40161, you disgust me.




Pada suatu titik, aku tidak bersyukur dengan keadaan bahwa aku dicintai dengan teramat sangat. Keadaan itu membuatku terancam dan merasa ketakutan. Selalu ada kemungkinan bahwa cinta yang sedemikian bisa saja membuatku jadi tidak bebas berekspresi atau justru mati termutilasi, suatu hari nanti.


Kualami kondisi yang sama sore ini.
Mantan kekasih yang bersikeras berulang kali menelpon meski berulang kali pula aku tidak mengangkat telpon darinya. Dia ingin bicara, sedangkan aku tidak. Menurutku, tidak ada lagi yang perlu dibahas panjang lebar tanpa ada batas jelas mana ujung mana pangkal. 


Tidak, ketika dia merambah masuk ke hidupku yang baru tanpanya. Terimakasih tapi tidak, ketika dia membajak alur komunikasi dan berkenalan dengan temanteman lama yang kukenal sepintas saja. Lagilagi tidak, ketika dia melulu menggemakan menggaungkan betapa dia ingin kembali aku ada di hidupnya. Cukup sudah dan tidak (TENTU TIDAK !!!), ketika dia maju ke lelakiku yang sekarang dan membongkar aib dengan bangga. 


Cinta gilaSakit jiwa.


Ya. Dulu pernah aku cinta padanya. Sekian dalam. Sekian besar. Sekian lama. Tapi itu dulu. Masa lalu.
Ya. Sekarang dia masih cinta padaku. Sekian dalam. Sekian besar. Sekian... gila. Tapi ini sekarang. Masa kini.


Kukira kita semua tahu bahwa manusia tidaklah statis ketika berhadapan dengan waktu. Lebih baik kita terus berjalan. Biar luka, biar sakit, biar nyeri, biar ngilu, biar perih.
Biar saja waktu yang menggerus. 
Ada hidup yang menanti untuk diurus. Dan itu adalah hidupku, yang terlalu lama terbengkalai karena cintaku dulu tak putusputus.


Sekarang,
aku berhak untuk diam.
Bahkan ketika selalu dia mengeja cintanya yang megah di masa lalu, yang buatku terlalu usang untuk dibandingkan dengan cinta sederhana yang kupunya sekarang.
Aku berhak untuk diam, dan menyimpan rahasia untukku seorang.


Bahwa pernah aku dulu mencintainya... yang kini gila.