80226, menyisir pesisir mengusir desir.
Punggung ini adalah punggung yang sepi,
kembali sendiri menapaki jalanan sunyi.
Pemiliknya mungkin lupa
bagaimana bahagia terasa
...sebab ia lebih akrab dengan kecewa yang dipendam dalam diam.
Sepanjang perjalanan menuju ingatan,
ia berusaha menjadi yang terdepan.
Semata-mata agar tiada sesiapa
sempat melihat tangis tiris di matanya:
luka terbuka nyata.
Ia butuh jenak masa
agar bisa kembali percaya
bahwa karang dan gunung
atau gelang dan kalung
bisa bermakna “Selamanya”.
60285-2015 & 80226-2016, not yet reborn.
Kukumpulkan segenap keberanian
seperti bocah tergeragap menjelang ujian.
Waktu itu: menunggu sahur,
mataku tanpa pejam meredam cemas
yang membuatku terjaga nyalang tak bisa tidur.
Baru lima menit menyerah pada waktu,
setelah shubuh berjamaah kudengar suara yang tak biasa.
Kau terduduk memegang dada diri,
aku ambruk menyadari kenekatanku menguap lenyap.
Kau tak perlu mati,
aku yang harus pergi.
Kini setahun berlalu, doaku tetap sama:
hiduplah sehat dan baik-baik saja,
biarkan aku yang tak jadi berbahagia.
Jika harus kutukar jodohku untuk hidupmu,
maka jadilah.
Hingga kini,
aku masih mati.
80226, VirgoHarko.
Jangan ajari aku
bagaimana cara terbaik untuk mengucap selamat tinggal,
jika engkau bahkan tak jua mampu
menata hati dari sisa masa lalu yang terpenggal.
Ada beberapa isi kepala
yang tak butuh ingatan mata pisau
untuk mengingatkan betapa luka yang belum selesai
bukan sepantasnya disayat lagi.
Dari kepala yang demikian,
ada baiknya karat semacam itu pergi
dan tak lagi kembali memain-mainkan hati.
80226, giving without remembering and receive without forgetting.
Seberapa banyak seseorang bisa bersyukur
ketika ia berada di titik yang paling hancur?
Kita semua pernah menjadi bagian terkecil
dari sesuatu yang besar.