Tuesday, December 21

Tuesday, December 21, 2004 - No comments

[sing] Disguise - Lene Marlin

@45363, di tengah hujan dari langit dan mata.
aku adalah sebuah pengakuan dosa, tentang rasa.




Have you ever felt some kind of emptiness inside you will never measure up? To those people you must be strong. Can't show them that you're weak.
Have you ever told someone something that's far from the truth? Let them know that you're okay, just to make them stop all the wondering and questions they may have.
I'm okay... I really am now. Just needed some time to figure things out. Not telling lies... I'll be honest with you. Still we don't know what's yet to come.
Have you ever seen your face in a mirror? There's a smile but inside you're just a mess. You feel far from good. Need to hide 'cause they'd never understand.
Have you ever had this wish of being somewhere else? To let go of your disguise, all your worries too. And from that moment then you see things clear.
I'm okay... I really am now. Just needed some time to figure things out. Not telling lies... I'll be honest with you. Still we don't know what's yet to come.
Are you waiting for the day when your pain will disappear? When you know that it's not true what they say about you? You could not care less about the things surrounding. You ignoring all the voices from the walls.
I'm okay... I really am now. Just needed some time to figure things out. Not telling lies... I'll be honest with you. Still we don't know what's yet to come.



Wednesday, December 8

Wednesday, December 08, 2004 - No comments

[sing] The Way You Look At Me - Christian Bautista

@45363, lagunya gue banget!!!




No one ever saw me like you do. All the things that I could up to. I never knew just what a smile was worth, but your eyes say everything without a single word.
'Cause there's somethin' in the way you look at me. It's as if my heart knows you're the missing piece. You made me believe that there's nothing in this world I can't be. I never know what you see, but there's somethin' in the way you look at me.
If I could freeze some moment in my mind, be the second that you touch your lips to mine. I'd like to stop the clock, make time stand still. 'Cause baby, this is just the way I always wanna feel.
'Cause there's somethin' in the way you look at me. It's as if my heart knows you're the missing piece. You made me believe that there's nothing in this world I can't be. I never know what you see, but there's somethin' in the way you look at me.
I don't know how or why I feel different in your eyes. All I know is it happens every time. 
'Cause there's somethin' in the way you look at me. It's as if my heart knows you're the missing piece. You made me believe that there's nothing in this world I can't be. I never know what you see, but there's somethin' in the way you look at me.





Thursday, December 2

Thursday, December 02, 2004 - No comments

~ Pro Status Quo ~

@45363, The Clock We Live On.




Aku menyatakan diri bermusuhan dengan waktu.
Tak ingin waktu bergerak maju dan menggilasku.
Biar saja waktu membeku seperti aku terperangkap tatapmu.
Aku tak mau tahu.


Kita dulu pernah begitu... ingatkah kamu?



Saturday, November 20

Saturday, November 20, 2004 - No comments

~ Turning Point - Hell, No !!! ~

@45363, I'll see you in the right time and place.
I knew you're the right piece of puzzle that fits my life.




Telah kuhentikan semua tangis semua perih semua duka.
Kan kumulai sebuah hidup sebuah jalan sebuah langkah.



Tak perlu pergi terlalu jauh...
sebab aku ingin segera kembali padamu
saat waktu memanggilku untuk berada di situ.


Saturday, November 20, 2004 - No comments

[sing] Jealous - Thunderbugs

@45363, andai semudah itu mengartikan cemburu.




You got a new girlfriend, but I still love you. I can't stand the thought of her having a piece of you. What she got that I don't ?! What she do that I won't ?! You must be blind. Take a good look at her... she's not your kind !!! I don't know what I'd do if I saw her with you. I'm jealous... jealous... I'm jealous... out of my mind.
I'd come round and see you, 'cause I want to remind you. But what if she's there? How would I find you?
You got a new baby, but I want you back again. I'm liable to do anything. I might kick her face in. What she got that I don't ?! What she do that I won't ?! You must be blind. Take a good look at her... she's not your kind !!! After all we've been through, I'm devoted to you. I'm jealous... jealous... I'm jealous... out of my mind.






Monday, October 25

Monday, October 25, 2004 - No comments

~ Pasrah ~

@45363, if that what it takes.




Aku menyerah.
Tak mampu memenangkan hatiku yang menginginkanmu.
Keputusanku adalah mencintaimu sedemikian hingga kukorbankan bahagiaku.
Itu jauh lebih berarti dari seribu tahun bersamamu.


Selamat menempuh hidup baru: 
tanpaku !!!



Monday, October 25, 2004 - No comments

~ Infertile ~

@45363, i'll do... for your own good.




Mendadak aku jadi benci menulis. Entah kenapa.
Mungkin karena aku habis kata.
Sebab semua kata ada padanya: cahaya.
Maka ketika dia redup aku pun sirna
, tiada lagi ada.



Monday, October 25, 2004 - No comments

~ Farewell ~

@40235, tepi ranjang pagi hari awal minggu. 
lebur aku dalam ikhlas pengorbanan.



Escapist dorm, nol lima tiga delapan.
Gunung Bandung berkabut.
Beku.


Demikian pula hatiku membatu.
Saat kauminta aku melepaskanmu dari rantai itu
sambil mengigau katamu, "let me go, please.."


Damn!
You know i surely will...
just to make you shine again.



Thursday, October 21

Thursday, October 21, 2004 - No comments

~ One Big Question ~

@45363, saat belajar pasrah.




Bramadita, ajarkan padaku bagaimana caranya ikhlas...


Sebab aku tak pernah tahu
apakah engkau pergi karena benci dekat denganku
atau justru karena kau takut telah jatuh cinta padaku
(just let me know if you do).








Sunday, October 3

Sunday, October 03, 2004 - No comments

~ Menjuduli Antologi ~

@45363, linglung akan cinta.
(sebab saya belum pernah mabuk tapi saya sering linglung)





Silakan saja sebut ini adalah arsip buku harian.
Tema yang saya usung juga akan melulu c-i-n-t-a


Mari bosan, sebab dengan begitu
maka pembaca belum tumpul afeknya
seperti saya.



Sunday, October 03, 2004 - No comments

~ Aku, Lelaki, dan Sesuatu Bernama Pheromone ~

@40235, sehabis berita simpang siur.
I Love Him... still and will.




Satu: Aku yang menapakkan kaki memasuki wilayah Lelaki.
Aku hanya perlu datang (mendaki gunung lewati lembah) untuk sampai pada pondoknya.
Apalagi saat tanah basah bekas hujan begini.


Dua: Lelaki yang menuntunku kembali pada Pheromone.
Aku hanya perlu datang (tanpa perlu dipanggil) untuk mencari peluk.
Apalagi saat rindu itu menguar tanpa diminta.


Tiga: Pheromone itu.
Kutemukan lagi di kamar mandi dua kali dua dengan ubin kuning dan kerak tak terurus.
Kutemukan lagi di gantungan baju dengan kaos oblong putih dekil dan jeans belel tak dicuci.
Kutemukan lagi Lelaki.
D I A.


Empat: Aku, Lelaki, dan Pheromone itu.
Masih saja kami terbelit jaring tak berujung tak berpangkal.
Dan aku mengais tangis di balik bau otentik yang terpatri dalam memori.


Friday, October 1

Saturday, September 25

Saturday, September 25, 2004 - No comments

~ Mailbox ~

@45363, ada waktu dimana aku hilang nyali.




- aku masih saja... tak berani menghubungi


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif
atau berada di luar service area.
Cobalah beberapa saat lagi."


Harus apa aku saat terbunuh sepi
dan tak bisa lagi kukirim puisi?



Thursday, September 23

Thursday, September 23, 2004 - No comments

~ Kesadaran dan Pemikiran dalam Kaitannya dengan Menjadikan Manusia sebagai Makhluk yang Mampu Meng-"ada" ~

@45363, dini hari antara tanggal dua sekian September 2004.
"saya sadar bahwa saya tidak sadar..."




- sebuah kutipan tugas Analisis Eksistensial yang Saya buat dengan format yang sama


Manusia diciptakan dengan adanya akal dan budi pekerti yang merupakan suatu kelebihan dan kemudian membuatnya menjadi makhluk yang setingkat lebih tinggi. Manusia mampu berpikir dan mengolah apa-apa yang terjadi dalam lingkungan di sekitarnya atau bahkan sampai proses terkecil yang terjadi dalam dirinya.


Manusia merasa perlu menentukan tujuan hidup dan keinginan sebelum membuat keputusan akan sebuah tindakan. Manusia mampu membuat abstraksi pemikiran dan menjadikannya sebuah bahan yang obyektif untuk bisa disampaikan secara jelas kepada orang lain.


Manusia memiliki kesadaran diri akan arah yang akan dituju. Manusia bebas memilih dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuatnya berdasarkan pertimbangannya sendiri. Manusia menentukan sendiri sejarahnya dengan bergerak menuju sesuatu di luar diri. Manusia membangun sendiri dunia subyektif yang dihayati berdasarkan relativisme yang dialaminya, terlepas dari keterikatannya kepada dunia fisik yang memang tidak mudah untuk ditanggalkan.


Manusia menjadi “ada”. Bukan berarti “ada” di sini mengacu pada sesuatu yang kasat mata, melainkan lebih pada esensi kehadiran manusia yang disadarinya sendiri dengan berbagai dinamika yang terjadi dalam dirinya untuk dapat menghadirkan dirinya menjadi “ada”.


Manusia mampu meng-“ada”.
Manusia hanya memerlukan kesadaran dan pemikiran untuk melakukan proses meng-“ada” itu.


Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah: apakah manusia—yang telah dijadikan demikian berbeda dibandingkan makhluk hidup lain dengan adanya akal dan budi pekerti—masih saja belum dapat menemukan penghayatan sejati akan dunia pribadinya? Apakah manusia—yang telah dimungkinkan untuk menentukan kesadaran, pemikiran, kebebasan memilih, serta tanggung jawab—masih saja belum dapat menentukan siapa dirinya, apa yang diinginkannya, serta bagaimana cara mengungkapkan tujuan kehidupan yang dimilikinya kepada lingkungannya?


Apakah masih saja ada manusia yang belum dapat meng-“ada”?



Saturday, September 11

Saturday, September 11, 2004 - No comments

~ Pouring Rain Bring Me Pain ~

@45363, hujan deras di awal September 2004.




Hujan. Lagi.
Telah setahun dan masih hanya peluk hangat tentram
yang bisa kupikirkan tentangmu
yang kuharapkan darimu.


Siapa di sisimu kini,
mengiris hujan dengan obrolan tentang kehidupan?




Tuesday, September 7

Tuesday, September 07, 2004 - , No comments

~ Mengapa Jatuh Cinta adalah Salah ~

@45363, buat tanya yang tak terjawab. 
lagipula saya bukan ahli dalam "bercinta".



Seorang karib saya bertanya dengan mata berkaca-kaca, "Mengapa saya selalu jatuh cinta dengan orang yang salah?"


Saya, yang menurut beberapa orang dianggap memiliki jam terbang tinggi dalam (lagi-lagi) berbicara tentang cinta, bingung harus menjawab apa.
Sekenanya saja saya melontarkan kalimat, sekedar menjaga supaya karib saya tidak mengumbar emosi berlebih di depan publik--yang nantinya akan mendiskreditkan nama jeleknya. "Anda hanya belum mengetahui bahwa orang yang salah tersebut adalah orang yang benar."


Karib saya terbahak, merasa terhibur oleh kalimat yang dianggapnya cukup diplomatis tersebut. Buatnya tetap saja pertanyaan itu belum terjawab.


Semenit kemudian justru saya yang bertanya pada diri saya sendiri, "Mengapa masih saja orang beranggapan jatuh cinta (pada orang yang salah) adalah salah?"


Masalahnya terletak pada esensi yang harus dicermati. Ini bukan lagi menyangkut person "kepada siapa seharusnya orang jatuh cinta", melainkan feeling "apa yang menjadikan jatuh cinta seharusnya kepada orang yang benar."


Bayangkan Anda adalah seorang pelakon cerita dimana dalam skenario tidak tercantum apakah Anda harus merepotkan diri dengan prinsip siapa. Anda hanya diminta mendalami penghayatan bagaimana Anda membuat seseorang menjadi tepat demikian maknanya.
So, it isn't about the right person... isn't it?


Dengan kejujuran yang menyakitkan, saya terpaksa mengatakan bahwa memang jatuh cinta tidak berbicara pada ranah person. Tidak menjadi masalah apakah orangnya tidak tepat, sebab kita membutuhkan (dan menginginkan) waktu serta tempat yang tepat untuk jatuh cinta.
*Lihat kembali prinsip RSP dalam Psikologi Industri dan Organisasi--The Right Man on The Right Place at The Right Time.


Lantas masihkah perlu ada yang bertanya tentang siapa yang jatuh kepada siapa, bukannya siapa jatuh pada saat apa dan di mana?



Tuesday, September 07, 2004 - No comments

~ Meski Dia Hilang Pesona ~

@45363, kenapa bisa dia masuk dalam dunia kata?




- Yth. Tuan Kata-kata


Setiap kali berjumpa dengan Anda,
yang saya rasa adalah gelegak hasrat
ingin membungkus tiap pikiran dan perasaan dalam bahasa.
Menjadikannya bacaan... untuk kemudian mendapat sanjungan.




Wednesday, September 1

Wednesday, September 01, 2004 - No comments

~ Were Lovers & Are Strangers ~

@45363, gerimis mengawali September 2004.




Harus apa aku saat melewatkan malam-malam tanpamu?
Dimana damai jua yang terasa bersisian denganmu
... bagai waktu tak memburu diam dalam peluk.


Ketika aku dan kamu tak lagi menjadi kita
(masihkah bullshit?)
: masing-masing asing.
Masih...
aku berharap akan kamu.



Friday, July 30

Sunday, July 25

Sunday, July 25, 2004 - , No comments

Dualisme

60243, itu masih dua sisi keping mata uang yang sama.


: sms pagi buta dari nomor entah siapa

Ketika kau mengajarkan kebebasan pada seseorang,
sudahkah kau sendiri belajar tentang ikatan?

Sunday, July 18

Sunday, July 18, 2004 - No comments

Dilema Shinta

55281, akan pada siapa berpulang?


Cincin bermata tunggal itu melepaskanku dari dekap Rahwana.
Tapi apa guna kembali pada Rama
kalau tetap nanti dia berkata aku tidak setia?

Thursday, July 15

Thursday, July 15, 2004 - No comments

Vain

60243, tak ada yang pasti selain kau telah pergi.


I'm not quite sure whether i miss you or not.
(actually i really do!) 
All i know is that i'm bleeding...
still.

Friday, July 9

Friday, July 09, 2004 - No comments

Tuhan, Saya Manusia Hidup untuk Siapa?

60244, saat kayal².


Tuhan... saya -Manusia- dengan segala keterbatasan kapasitas dalam dirinya, bisa apa ketika dihadapkan dalam sebuah keadaan yang telah Anda tetapkan?

Sebagai manusia yang punya pilihan, saya berterimakasih atas adanya kebebasan untuk bisa merencanakan apa yang hendak saya jalani dengan segala macam resikonya.
Tapi terimakasih juga, Tuhan... mungkin ada baiknya Anda jauh-jauh dari saya sehingga saya bisa menentukan keputusan apa yang akan terjadi dan bukannya hanya diam saat Anda menentukan untuk mengatur semuanya dari atas sana!

Tidak akan pernah ada samanya saat saya berusaha untuk menganalogikan Anda dengan segala keduniawian dan kemanusiaan. Sebab Anda itu bahkan saya tak tahu mortal atau tidaknya. Sebab Anda itu tidak bisa saya perkirakan akan berbuat atau berpikir apa. Sebab Anda -Tuhan- itu causa prima atas segala yang terjadi pada kita. Itupun kalau percaya.

Lantas pertanyaan terbesar saya yang takkan pernah bisa dijawab menggunakan akal manusia adalah : saya -Manusia- hidup untuk siapa kalau dia bahkan tidak bisa bebas menentukan keputusan akan raganya sendiri, tidak peduli sebagus apapun impian yang dibangunnya?

Buat apa Anda bersusah payah menjadikan saya ada di sini dengan akal dengan badan dengan segala potensi yang memungkinkan saya melakukan semua dengan utuh penuh sebagai saya... kalau pada akhir cerita, Anda juga yang akhirnya akan dengan senang hati (apa Anda punya hati?) mengambil alih hak pengambilan keputusan tanpa mempertimbangkan segala daya upaya saya -Manusia- ?

Tuhan, kalau Anda adalah sebuah rahasia... 
maka saya yakin akan mati penasaran tanpa pernah menemukan jawabnya.

Monday, July 5

Thursday, July 1

Batu-Batu Bisu

60243, saat Unyil raib (lagi!).


Bapak masih saja batu.
Dikutuknya kami jadi Malin Kundang suatu waktu.

Bila kami tak bergeming, Bapak membenturkan diri.
Batu bertemu batu... selalu harus kami yang jadi puing.
Selalu harus kami yang hancur.

Padahal kami juga batu.

Tuesday, June 29

Tuesday, June 29, 2004 - No comments

Gama

60244, are things gonna change start from now on?


Lucu kalau aku bilang ada rindu buat tulisanmu.
Meski sekedar cerita tak tentu, aku ingin ada yang berbagi denganku.
Egois, memang. Sebab dulu aku tak tahan di dekatmu.
Tapi...

Rules are Made to be Chosen (Tawaran Pemikiran)

60244, atas nama perubahan.


"Maaf, nak… Kau tak sempat panggil aku Bunda. 
Lagipula aku belum genap 21." 
Abortus – @zenitsia (2004)

Namaku Norma. Umurku 21 sekarang. Sudah cukup banyak tahun yang bisa kutoleh ke belakang. Bukan untuk berpegangan pada kerinduan akan masa lalu yang semu, sekedar mengorek pengalaman untuk masa depan. Lagipula aku harus menjenguk anak-anak yang berceceran kulahirkan dari sekian banyak kejadian, untuk kemudian membawa mereka pulang ke rumah kesendirian.

Nakal lahir pada awal masa kanak-kanakku. Dia anak sulung yang kuhasilkan ketika aku menyetubuhi permainan pada jam yang tidak semestinya, memanjat pohon jambu tetangga, dan menceburkan teman lelakiku ke selokan di depan taman kanak-kanak. Nakal juga tumbuh besar pada kegiatan-kegiatan lain yang kulakukan untuk bisa mengenal dunia dengan keterbatasan indera. Orang-orang di sekitarku, terutama orang tuaku sebagai kakek nenek Nakal, tidak terlalu sayang padanya dengan alasan dia banyak merepotkan. Setiap kali Nakal muncul, yang kudapatkan adalah jeweran di telinga atau pukulan di pantat karena melahirkannya.

Menyusul setelah Nakal, anak yang lahir dariku selama masa sekolah adalah Tidak Sopan. Anak keduaku ini kudapat dari mengunci diri di kamar saat keluarga besar datang dan aku sedang enggan berbasa-basi. Tidak Sopan juga muncul dengan kelucuan bayinya ketika aku dicap berkata-kata kotor, padahal aku hanya sedang belajar mengeja nama-nama binatang sesuai EYD dan mencoba berlatih peran untuk mengasah bakat. Dibandingkan Nakal, orang tuaku lebih tidak menyukai Tidak Sopan karena dia selalu membuat malu mereka. Mereka beranggapan lahirnya Tidak Sopan adalah bukti kegagalan mereka mendidik aku sebagai ibu yang telah melahirkannya.

Aneh, Banyak Tingkah, dan Dosa merupakan rekor anak kembar tiga yang kulahirkan pada masa remaja. Sebagai anak kembar, mereka melakukan kegiatan dan mewarisi sifat kakak-kakaknya tiga kali lipat banyaknya. Mereka punya sifat Nakal tiga kali lipat dan mereka juga mirip Tidak Sopan tiga kali lipat.

Aneh lebih dulu muncul pada awal sekolah menengah sebagai hasil dari tingkah laku mengikuti mode dan ingin tampil beda. Aku memadumadankan sekian banyak referensi fashion untuk bisa berekspresi sesuai dengan keinginanku. Yang kudapat bukannya penghargaan akan anak kembar tertuaku itu, yang sebenarnya ingin kunamai Unik, tetapi malah orang tuaku bersikeras memanggilnya Aneh meski mereka tidak lagi terlalu gencar memusuhiku karena kelahirannya.

Banyak Tingkah lahir kemudian, saat aku duduk di bangku sekolah lanjutan. Dia lahir hampir bersamaan dengan Dosa. Aku melahirkan mereka dengan susah payah, sebabBanyak Tingkah dan Dosa membawa perubahan yang cukup besar dalam hidupku ketika lingkungan memaksaku menyembunyikan Dosa. Tidak banyak yang tahu tentang Dosa, bahkan aku sengaja tidak membiarkan kakek neneknya mengetahui lahirnya Dosa.

Banyak Tingkah dan Dosa kudapati ketika aku sedang bersenggama dengan dunia. Aku nongkrong bareng teman-teman, memboroskan uang untuk membesarkan Aneh, mengkhawatirkan kehilangan pacar tapi sering berselingkuh, mulai merokok serta mabuk, meragukan ideologi, dan bahkan tidur dengan lawan jenis kulakukan untuk bisa melahirkan Banyak Tingkah dan Dosa.

Anak-anakku tidak banyak merepotkanku. Meski Nakal, Tidak Sopan, Aneh, Banyak Tingkah, dan Dosa namun mereka adalah bayi-bayi lucu yang kulahirkan ke dunia. Tidak mungkin aku meniadakan mereka, sebab aku ingin mereka bertumbuh kembang sebagai bagian dari diriku yang akan unjuk gigi ke dunia. Maka sebagai bukti adanya aku sebagai bagian terpisah dari duniaku, kulahirkan anak bungsuku dengan penuh kebanggaan yang akhirnya kuberi nama : PEMBERONTAKAN.

Orang tuaku tidak setuju aku melahirkan sekian banyak anak berkarakter buruk, mereka bilang itu bertentangan dengan namaku, Norma. Tapi tahu apa mereka akan kebutuhanku sebagai manusia? Yang mereka tahu adalah kebutuhan mereka sebagai makhluk sosial yang punya ketakutan akan adanya evaluasi negatif dari lingkungan, bukan aku sebagai individu bebas.

.: :.

Lingkungan sosial tidak menerima makhluk individual. Mereka-mereka yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan dipersilakan minggir dan tersisih dengan cara masing-masing ke dalam sektor pribadi. Mereka baru boleh kembali apabila mereka merasa mampu memenuhi tuntutan lingkungan sosial yang dipetakan dalam aturan-aturan berjudul norma.

Norma menyeragamkan individualisme. Semua bagian pribadi dicuci bersih dan dipinggirkan untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yaitu atas nama kebersamaan. Kolektivitas. Koloni sosial nan menjijikkan.

Jangan harap manusia lepas dari norma. Selama seseorang masih merupakan bagian dari peradaban yang berbudaya, maka sudah sewajarnya dia mampu menyesuaikan diri dengan norma-tata krama-sopan santun-adat istiadat sebagai panduan bertingkah laku dalam masyarakat.

Pertanyaannya : dimanakah kebebasan individu diletakkan? Bisakah semua norma sosial yang ada kita abaikan dan kita hanya menjalankan pilihan sebagai seorang individu dengan aturan kita sendiri? Kapankah kita bisa menggunakan potensi kita dengan bijak untuk mencapai tujuan pribadi yang mungkin samasekali berbeda dengan apa yang diinginkan lingkungan sosial kita?

Jawabnya : tidak ada dan tidak akan pernah.

Selama kita memutuskan untuk masih menjadi bagian dari sebuah lingkaran sosial, maka selama itulah kita akan kehilangan penghargaan akan individualisme kita. Deindividuasi. Kita melakukan apa yang dituntut lingkungan untuk menghindari evaluasi negatif dan menjilat untuk mendapatkan pujian positif.

Sejauh ini yang banyak dilakukan adalah berkompromi. Menjadi amphibi sosial. Minggir sebagai individu bila perlu menyepi dan melakukan tapa brata. Kembali bersosialisasi ketika merasa perlu keluar dari gua dan butuh dukungan emosional-fisikal dari lingkungan sosial. Bunglon, kasarnya. Dalam konotasi positif, bisa juga bermakna “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”.

Sekarang solusi apa yang bisa ditawarkan lingkungan? Pun atas nama perubahan sosial, percuma saja. Apabila lingkungan hanya memungkinkan amphibi sebagai jalan kompromi dan tidak mengusahakan kolaborasi individu dengan lingkungan sosialnya, maka jangan salahkan kejadian yang akan membawa Norma-Norma yang lain ke usia 21 tahun (usia mandiri secara hukum) untuk mulai mengambil keputusan atas nama individu.


Sebab tiap individu diciptakan untuk bebas memilih sebuah rumah kesendirian, terlepas dari kebutuhannya untuk mengamankan diri dari individualismenya dengan adanya aturan sosial; maka pada saat itu, lingkungan tidak bisa menyesalkan lahirnya Nakal, Tidak SopanAnehBanyak Tingkah, Dosa, dan PEMBERONTAKAN dari tiap Norma yang ada.