Tuesday, June 29

Tuesday, June 29, 2004 - No comments

Gama

60244, are things gonna change start from now on?


Lucu kalau aku bilang ada rindu buat tulisanmu.
Meski sekedar cerita tak tentu, aku ingin ada yang berbagi denganku.
Egois, memang. Sebab dulu aku tak tahan di dekatmu.
Tapi...

Rules are Made to be Chosen (Tawaran Pemikiran)

60244, atas nama perubahan.


"Maaf, nak… Kau tak sempat panggil aku Bunda. 
Lagipula aku belum genap 21." 
Abortus – @zenitsia (2004)

Namaku Norma. Umurku 21 sekarang. Sudah cukup banyak tahun yang bisa kutoleh ke belakang. Bukan untuk berpegangan pada kerinduan akan masa lalu yang semu, sekedar mengorek pengalaman untuk masa depan. Lagipula aku harus menjenguk anak-anak yang berceceran kulahirkan dari sekian banyak kejadian, untuk kemudian membawa mereka pulang ke rumah kesendirian.

Nakal lahir pada awal masa kanak-kanakku. Dia anak sulung yang kuhasilkan ketika aku menyetubuhi permainan pada jam yang tidak semestinya, memanjat pohon jambu tetangga, dan menceburkan teman lelakiku ke selokan di depan taman kanak-kanak. Nakal juga tumbuh besar pada kegiatan-kegiatan lain yang kulakukan untuk bisa mengenal dunia dengan keterbatasan indera. Orang-orang di sekitarku, terutama orang tuaku sebagai kakek nenek Nakal, tidak terlalu sayang padanya dengan alasan dia banyak merepotkan. Setiap kali Nakal muncul, yang kudapatkan adalah jeweran di telinga atau pukulan di pantat karena melahirkannya.

Menyusul setelah Nakal, anak yang lahir dariku selama masa sekolah adalah Tidak Sopan. Anak keduaku ini kudapat dari mengunci diri di kamar saat keluarga besar datang dan aku sedang enggan berbasa-basi. Tidak Sopan juga muncul dengan kelucuan bayinya ketika aku dicap berkata-kata kotor, padahal aku hanya sedang belajar mengeja nama-nama binatang sesuai EYD dan mencoba berlatih peran untuk mengasah bakat. Dibandingkan Nakal, orang tuaku lebih tidak menyukai Tidak Sopan karena dia selalu membuat malu mereka. Mereka beranggapan lahirnya Tidak Sopan adalah bukti kegagalan mereka mendidik aku sebagai ibu yang telah melahirkannya.

Aneh, Banyak Tingkah, dan Dosa merupakan rekor anak kembar tiga yang kulahirkan pada masa remaja. Sebagai anak kembar, mereka melakukan kegiatan dan mewarisi sifat kakak-kakaknya tiga kali lipat banyaknya. Mereka punya sifat Nakal tiga kali lipat dan mereka juga mirip Tidak Sopan tiga kali lipat.

Aneh lebih dulu muncul pada awal sekolah menengah sebagai hasil dari tingkah laku mengikuti mode dan ingin tampil beda. Aku memadumadankan sekian banyak referensi fashion untuk bisa berekspresi sesuai dengan keinginanku. Yang kudapat bukannya penghargaan akan anak kembar tertuaku itu, yang sebenarnya ingin kunamai Unik, tetapi malah orang tuaku bersikeras memanggilnya Aneh meski mereka tidak lagi terlalu gencar memusuhiku karena kelahirannya.

Banyak Tingkah lahir kemudian, saat aku duduk di bangku sekolah lanjutan. Dia lahir hampir bersamaan dengan Dosa. Aku melahirkan mereka dengan susah payah, sebabBanyak Tingkah dan Dosa membawa perubahan yang cukup besar dalam hidupku ketika lingkungan memaksaku menyembunyikan Dosa. Tidak banyak yang tahu tentang Dosa, bahkan aku sengaja tidak membiarkan kakek neneknya mengetahui lahirnya Dosa.

Banyak Tingkah dan Dosa kudapati ketika aku sedang bersenggama dengan dunia. Aku nongkrong bareng teman-teman, memboroskan uang untuk membesarkan Aneh, mengkhawatirkan kehilangan pacar tapi sering berselingkuh, mulai merokok serta mabuk, meragukan ideologi, dan bahkan tidur dengan lawan jenis kulakukan untuk bisa melahirkan Banyak Tingkah dan Dosa.

Anak-anakku tidak banyak merepotkanku. Meski Nakal, Tidak Sopan, Aneh, Banyak Tingkah, dan Dosa namun mereka adalah bayi-bayi lucu yang kulahirkan ke dunia. Tidak mungkin aku meniadakan mereka, sebab aku ingin mereka bertumbuh kembang sebagai bagian dari diriku yang akan unjuk gigi ke dunia. Maka sebagai bukti adanya aku sebagai bagian terpisah dari duniaku, kulahirkan anak bungsuku dengan penuh kebanggaan yang akhirnya kuberi nama : PEMBERONTAKAN.

Orang tuaku tidak setuju aku melahirkan sekian banyak anak berkarakter buruk, mereka bilang itu bertentangan dengan namaku, Norma. Tapi tahu apa mereka akan kebutuhanku sebagai manusia? Yang mereka tahu adalah kebutuhan mereka sebagai makhluk sosial yang punya ketakutan akan adanya evaluasi negatif dari lingkungan, bukan aku sebagai individu bebas.

.: :.

Lingkungan sosial tidak menerima makhluk individual. Mereka-mereka yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan dipersilakan minggir dan tersisih dengan cara masing-masing ke dalam sektor pribadi. Mereka baru boleh kembali apabila mereka merasa mampu memenuhi tuntutan lingkungan sosial yang dipetakan dalam aturan-aturan berjudul norma.

Norma menyeragamkan individualisme. Semua bagian pribadi dicuci bersih dan dipinggirkan untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yaitu atas nama kebersamaan. Kolektivitas. Koloni sosial nan menjijikkan.

Jangan harap manusia lepas dari norma. Selama seseorang masih merupakan bagian dari peradaban yang berbudaya, maka sudah sewajarnya dia mampu menyesuaikan diri dengan norma-tata krama-sopan santun-adat istiadat sebagai panduan bertingkah laku dalam masyarakat.

Pertanyaannya : dimanakah kebebasan individu diletakkan? Bisakah semua norma sosial yang ada kita abaikan dan kita hanya menjalankan pilihan sebagai seorang individu dengan aturan kita sendiri? Kapankah kita bisa menggunakan potensi kita dengan bijak untuk mencapai tujuan pribadi yang mungkin samasekali berbeda dengan apa yang diinginkan lingkungan sosial kita?

Jawabnya : tidak ada dan tidak akan pernah.

Selama kita memutuskan untuk masih menjadi bagian dari sebuah lingkaran sosial, maka selama itulah kita akan kehilangan penghargaan akan individualisme kita. Deindividuasi. Kita melakukan apa yang dituntut lingkungan untuk menghindari evaluasi negatif dan menjilat untuk mendapatkan pujian positif.

Sejauh ini yang banyak dilakukan adalah berkompromi. Menjadi amphibi sosial. Minggir sebagai individu bila perlu menyepi dan melakukan tapa brata. Kembali bersosialisasi ketika merasa perlu keluar dari gua dan butuh dukungan emosional-fisikal dari lingkungan sosial. Bunglon, kasarnya. Dalam konotasi positif, bisa juga bermakna “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”.

Sekarang solusi apa yang bisa ditawarkan lingkungan? Pun atas nama perubahan sosial, percuma saja. Apabila lingkungan hanya memungkinkan amphibi sebagai jalan kompromi dan tidak mengusahakan kolaborasi individu dengan lingkungan sosialnya, maka jangan salahkan kejadian yang akan membawa Norma-Norma yang lain ke usia 21 tahun (usia mandiri secara hukum) untuk mulai mengambil keputusan atas nama individu.


Sebab tiap individu diciptakan untuk bebas memilih sebuah rumah kesendirian, terlepas dari kebutuhannya untuk mengamankan diri dari individualismenya dengan adanya aturan sosial; maka pada saat itu, lingkungan tidak bisa menyesalkan lahirnya Nakal, Tidak SopanAnehBanyak Tingkah, Dosa, dan PEMBERONTAKAN dari tiap Norma yang ada.

Tuesday, June 22

Tuesday, June 22, 2004 - No comments

Atheis

60243, takut untuk beringsut.


Sejauh mana kau percaya akan kekuatan doa?
Hanya sejauh itu aku berani mencintaimu.

Saturday, June 19

Berpulang

45363, home bittersweet home.


- empat jam sebelum Mutiara Selatan berangkat

Hari ini Jatinangor panas. Macet. Biasa.
Hari ini Surabaya seperti apa ya? Macetkah? Panaskah?

Aku akan menempuh perjalanan 14 jam : 
beristirah sejenak sambil belajar menjadi ibu rumah tangga sampai siap untuk kembali lagi ke diktat-diktat kuliah dan laporan praktikum.

Tuesday, June 15

Lelaki dan Perempuan : yang Ada dalam Relasi

45363, jawaban sebuah tulisan yang menanyakan relasi.


"Ketika saya memutuskan untuk..." 
maka berarti saya sudah menimbang kanan dan kiri supaya seimbang.

Ketika saya memutuskan untuk memulai sebuah relasi, maka saya membuka sebuah cakrawala baru tentang dunia yang belum pernah saya cicipi sebelumnya. Sebanyak apa saya akan menikmati cicipan itu, itu tergantung pada siapa yang memasak, apa bumbunya, jenis masakan apa itu, wadah untuk menempatkannya, serta cara penyajiannya.

Ketika Lelaki dan Perempuan menjadi satu kata Kita, maka saya sebagai makhluk berjenis kelamin pun ikut terlibat di dalamnya. Ada benang merah yang saya ikatkan di kelingking lawan jenis sebagai konsekuensinya... tak peduli benang milik saya itu ruwet, mbundeli nggak karuan.

Ketika relasi meminta kelelakian dan keperempuanan, maka yang ada adalah atas nama relasi. Mau cinta sampai mblukek, mau sayang sampai eneg, mau benci sampai rugi, mau apapun juga akan diberi kalau ada relasi. Di luar itu, nanti dulu...

Kembali (Awalnya Membaca, Akhirnya Menulis)

45363, thanks to writing therapy.


Tolong dibedakan.
Sore ini ada sebuah tulisan mampir tak sengaja ke ranselku. 
Sebuah tulisan yang sebenarnya sudah lama ditunggu oleh aku dan teman-temanku.
Lantas aku dihadapkan pada satu kewajiban : membaca tulisan.
Bukan untuk penghargaan atas siapa yang menulis, tetapi lebih pada apa yang ditulis.

Tulisan itu cukup nyentrik. 
Kenapa nyentrik adalah karena diawali dengan kalimat yang membuatku cukup mengendalikan diri untuk meluangkan waktu hanya sendirian membacanya.

Tulisan itu juga lucu. 
Kenapa lucu adalah karena sebelumnya si pemilik tulisan menyarangkan sebuah pujian "Tulisanmu bagus" kepadaku. Mabuk sedikit boleh lah... soalnya dia adalah orang yang cukup kreatif dalam menulis dan (akhirnya, kali ini!) dia bisa melihat ciri khas tulisanku yang belum banyak tergali di mana estetikanya.

Selanjutnya lucu adalah karena tulisan itu (rasanya) merupakan cuilan-cuilan jawaban dari tulisan terakhirku yang kubolehkan dibaca orang.

Tapi, tulisan itu punya power. Powernya adalah karena tulisan itu ada dan kubaca, jadilah aku disini : malam-malam lari ke warnet dan segera menulis (HORE!).

Terimakasih buat suatu keputusan untuk tidak pernah berhenti menulis. Sebab menulis itu adalah bagaimana membahasakan rasa supaya orang lain bisa mengerti apa yang sedang terjadi dalam diri kita dan meluruskan pikiran tentang kita.
Soal orang lain kurang bisa menerima... well, meminjam bahasa seorang teman, 
"Ini kan aku. Belum tentu aku begitu."

Saturday, June 12

Cacing Kepanasan

45363, saat otak sedang sekarat.


Meminjam kalimat teman-teman dalam Klab Relasi saya, 
saya sedang berada pada fase "cacing yang siap untuk digoreng".
Maka dari itu saya memutuskan untuk sementara berhenti menulis.
Tolong jangan rindukan saya.