Friday, January 21

Friday, January 21, 2011 - No comments

Like Mother Like Daughter

@40161, tumpukan tugas ini 
membuatku hanya sempat mengucap "selamat ulang tahun" lewat puisi.


Ingin tahu bagaimana rasanya menjadi Ibu?

Coba lepaskan tangannya, tapi tetap pegang erat hatinya.
Coba turuti keinginannya dan penuhi kebutuhannya
tanpa membuatnya jadi manja.
Coba tutup telinga dan matamu dari keluh kesahnya
tapi rentangkan lenganmu untuk memeluknya.
Coba kunci pintu jika ia pulang terlambat,
tapi selalu sediakan selimut kapanpun ia pulang karena merasa tersesat.
Coba kendalikan amarahmu dan ubah itu jadi belaian lembut di kepalanya,
bukan tamparan keras di pipinya.
Coba cintai dan tangisi setiap baik dan buruk pada dirinya,
meski ia benci dan memaki setiap baik dan buruk pada dirimu.

Coba,
lakukan semua itu.
Mari kita lihat seberapa jauh kau sudah jadi Ibu bagi anak-anakmu...


Want to know how it feels to be a mother?

Try to let go off their hands, but hold still their hearts.
Try to fulfill their wants and needs without making them spoiled.
Try to shut your eyes and ears to their complaints,
but open your arms to embrace them.
Try to lock the door if they come home late,
but prepare the warm blanket if they got lost along the way.
Try to control your anger and convert it
into a soft caress in their heads, not a hard slap in their cheeks.
Try to love and weep for each and every good and bad in them,
no matter how much they hate and yell for each and every good and bad in you.

Try
do all those things.
Let's see how you've become a mother for your children...

Thursday, January 6

Thursday, January 06, 2011 - 2 comments

~ Catatan Penantian ~

@40161, bisa biasa bersedia bersetia.




Hei.
Mari sini.
Belum tamat gurat wajahmu kurabai, dan engkau lagilagi hendak pergi?


Ke mana kali ini?
Ke pulau dimana sinyal tak terjangkau?
Ke benua dimana waktu berselisih sekian lama?


Mengapa tak di sampingku saja
duduk diam menanam pohon cabe ranum
yang bisa dipetik untuk bikin sambel dadak kapanpun suka?
Mengapa tak di dekatku saja
celoteh riang tentang simpul senyum
yang muncul pada bibir sahabat dan kerabat setelah lama tak jumpa?


Mungkin nanti ya...
ketika kau kembali dan punya banyak cerita
mengenai dunia yang kautelusuri penuh rasa ingin tahu
beragam warna di alam semesta yang tak pernah kusimak sungguhsungguh.
Mungkin nanti ya...
ketika aku menyimpan kopi kegemaranmu di laci
tanpa pernah tahu kapan akan kuseduh untukmu atau untuk yang lainnya
sungguh aku belajar sabar membaca peta menghayati perjalanan yang kautempuh.


Tuhan tahu aku menunggu.
Kukira Tuan pun paham itu.



Thursday, January 06, 2011 - No comments

~ pada Binar yang Pudar ~

@40161, tolong tuhan untuk kali ini saja beri aku kekuatan tuk menatap matanya.




Pada hujan sederas apa kan kutemui diriku membatu di bawah jendelamu,
mengharap ambangnya terbuka dan kau memintaku masuk lewat pintu utama?


Ini pena masih basah
meski tak lagi darah jadi tintanya.


Matamu itu, Bung!
Yang dulu kupuja.
Yang kini.... sirna.
Matamu itu, Bung!


Matamu!!!