Saturday, September 25

Saturday, September 25, 2004 - No comments

~ Mailbox ~

@45363, ada waktu dimana aku hilang nyali.




- aku masih saja... tak berani menghubungi


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif
atau berada di luar service area.
Cobalah beberapa saat lagi."


Harus apa aku saat terbunuh sepi
dan tak bisa lagi kukirim puisi?



Thursday, September 23

Thursday, September 23, 2004 - No comments

~ Kesadaran dan Pemikiran dalam Kaitannya dengan Menjadikan Manusia sebagai Makhluk yang Mampu Meng-"ada" ~

@45363, dini hari antara tanggal dua sekian September 2004.
"saya sadar bahwa saya tidak sadar..."




- sebuah kutipan tugas Analisis Eksistensial yang Saya buat dengan format yang sama


Manusia diciptakan dengan adanya akal dan budi pekerti yang merupakan suatu kelebihan dan kemudian membuatnya menjadi makhluk yang setingkat lebih tinggi. Manusia mampu berpikir dan mengolah apa-apa yang terjadi dalam lingkungan di sekitarnya atau bahkan sampai proses terkecil yang terjadi dalam dirinya.


Manusia merasa perlu menentukan tujuan hidup dan keinginan sebelum membuat keputusan akan sebuah tindakan. Manusia mampu membuat abstraksi pemikiran dan menjadikannya sebuah bahan yang obyektif untuk bisa disampaikan secara jelas kepada orang lain.


Manusia memiliki kesadaran diri akan arah yang akan dituju. Manusia bebas memilih dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuatnya berdasarkan pertimbangannya sendiri. Manusia menentukan sendiri sejarahnya dengan bergerak menuju sesuatu di luar diri. Manusia membangun sendiri dunia subyektif yang dihayati berdasarkan relativisme yang dialaminya, terlepas dari keterikatannya kepada dunia fisik yang memang tidak mudah untuk ditanggalkan.


Manusia menjadi “ada”. Bukan berarti “ada” di sini mengacu pada sesuatu yang kasat mata, melainkan lebih pada esensi kehadiran manusia yang disadarinya sendiri dengan berbagai dinamika yang terjadi dalam dirinya untuk dapat menghadirkan dirinya menjadi “ada”.


Manusia mampu meng-“ada”.
Manusia hanya memerlukan kesadaran dan pemikiran untuk melakukan proses meng-“ada” itu.


Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah: apakah manusia—yang telah dijadikan demikian berbeda dibandingkan makhluk hidup lain dengan adanya akal dan budi pekerti—masih saja belum dapat menemukan penghayatan sejati akan dunia pribadinya? Apakah manusia—yang telah dimungkinkan untuk menentukan kesadaran, pemikiran, kebebasan memilih, serta tanggung jawab—masih saja belum dapat menentukan siapa dirinya, apa yang diinginkannya, serta bagaimana cara mengungkapkan tujuan kehidupan yang dimilikinya kepada lingkungannya?


Apakah masih saja ada manusia yang belum dapat meng-“ada”?



Saturday, September 11

Saturday, September 11, 2004 - No comments

~ Pouring Rain Bring Me Pain ~

@45363, hujan deras di awal September 2004.




Hujan. Lagi.
Telah setahun dan masih hanya peluk hangat tentram
yang bisa kupikirkan tentangmu
yang kuharapkan darimu.


Siapa di sisimu kini,
mengiris hujan dengan obrolan tentang kehidupan?




Tuesday, September 7

Tuesday, September 07, 2004 - , No comments

~ Mengapa Jatuh Cinta adalah Salah ~

@45363, buat tanya yang tak terjawab. 
lagipula saya bukan ahli dalam "bercinta".



Seorang karib saya bertanya dengan mata berkaca-kaca, "Mengapa saya selalu jatuh cinta dengan orang yang salah?"


Saya, yang menurut beberapa orang dianggap memiliki jam terbang tinggi dalam (lagi-lagi) berbicara tentang cinta, bingung harus menjawab apa.
Sekenanya saja saya melontarkan kalimat, sekedar menjaga supaya karib saya tidak mengumbar emosi berlebih di depan publik--yang nantinya akan mendiskreditkan nama jeleknya. "Anda hanya belum mengetahui bahwa orang yang salah tersebut adalah orang yang benar."


Karib saya terbahak, merasa terhibur oleh kalimat yang dianggapnya cukup diplomatis tersebut. Buatnya tetap saja pertanyaan itu belum terjawab.


Semenit kemudian justru saya yang bertanya pada diri saya sendiri, "Mengapa masih saja orang beranggapan jatuh cinta (pada orang yang salah) adalah salah?"


Masalahnya terletak pada esensi yang harus dicermati. Ini bukan lagi menyangkut person "kepada siapa seharusnya orang jatuh cinta", melainkan feeling "apa yang menjadikan jatuh cinta seharusnya kepada orang yang benar."


Bayangkan Anda adalah seorang pelakon cerita dimana dalam skenario tidak tercantum apakah Anda harus merepotkan diri dengan prinsip siapa. Anda hanya diminta mendalami penghayatan bagaimana Anda membuat seseorang menjadi tepat demikian maknanya.
So, it isn't about the right person... isn't it?


Dengan kejujuran yang menyakitkan, saya terpaksa mengatakan bahwa memang jatuh cinta tidak berbicara pada ranah person. Tidak menjadi masalah apakah orangnya tidak tepat, sebab kita membutuhkan (dan menginginkan) waktu serta tempat yang tepat untuk jatuh cinta.
*Lihat kembali prinsip RSP dalam Psikologi Industri dan Organisasi--The Right Man on The Right Place at The Right Time.


Lantas masihkah perlu ada yang bertanya tentang siapa yang jatuh kepada siapa, bukannya siapa jatuh pada saat apa dan di mana?



Tuesday, September 07, 2004 - No comments

~ Meski Dia Hilang Pesona ~

@45363, kenapa bisa dia masuk dalam dunia kata?




- Yth. Tuan Kata-kata


Setiap kali berjumpa dengan Anda,
yang saya rasa adalah gelegak hasrat
ingin membungkus tiap pikiran dan perasaan dalam bahasa.
Menjadikannya bacaan... untuk kemudian mendapat sanjungan.




Wednesday, September 1

Wednesday, September 01, 2004 - No comments

~ Were Lovers & Are Strangers ~

@45363, gerimis mengawali September 2004.




Harus apa aku saat melewatkan malam-malam tanpamu?
Dimana damai jua yang terasa bersisian denganmu
... bagai waktu tak memburu diam dalam peluk.


Ketika aku dan kamu tak lagi menjadi kita
(masihkah bullshit?)
: masing-masing asing.
Masih...
aku berharap akan kamu.