@45363, dini hari antara tanggal dua sekian September 2004.
"saya sadar bahwa saya tidak sadar..."
- sebuah kutipan tugas Analisis Eksistensial yang Saya buat dengan format yang sama
Manusia diciptakan dengan adanya akal dan budi pekerti yang merupakan suatu kelebihan dan kemudian membuatnya menjadi makhluk yang setingkat lebih tinggi. Manusia mampu berpikir dan mengolah apa-apa yang terjadi dalam lingkungan di sekitarnya atau bahkan sampai proses terkecil yang terjadi dalam dirinya.
Manusia merasa perlu menentukan tujuan hidup dan keinginan sebelum membuat keputusan akan sebuah tindakan. Manusia mampu membuat abstraksi pemikiran dan menjadikannya sebuah bahan yang obyektif untuk bisa disampaikan secara jelas kepada orang lain.
Manusia memiliki kesadaran diri akan arah yang akan dituju. Manusia bebas memilih dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuatnya berdasarkan pertimbangannya sendiri. Manusia menentukan sendiri sejarahnya dengan bergerak menuju sesuatu di luar diri. Manusia membangun sendiri dunia subyektif yang dihayati berdasarkan relativisme yang dialaminya, terlepas dari keterikatannya kepada dunia fisik yang memang tidak mudah untuk ditanggalkan.
Manusia menjadi “ada”. Bukan berarti “ada” di sini mengacu pada sesuatu yang kasat mata, melainkan lebih pada esensi kehadiran manusia yang disadarinya sendiri dengan berbagai dinamika yang terjadi dalam dirinya untuk dapat menghadirkan dirinya menjadi “ada”.
Manusia mampu meng-“ada”.
Manusia hanya memerlukan kesadaran dan pemikiran untuk melakukan proses meng-“ada” itu.
Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah: apakah manusia—yang telah dijadikan demikian berbeda dibandingkan makhluk hidup lain dengan adanya akal dan budi pekerti—masih saja belum dapat menemukan penghayatan sejati akan dunia pribadinya? Apakah manusia—yang telah dimungkinkan untuk menentukan kesadaran, pemikiran, kebebasan memilih, serta tanggung jawab—masih saja belum dapat menentukan siapa dirinya, apa yang diinginkannya, serta bagaimana cara mengungkapkan tujuan kehidupan yang dimilikinya kepada lingkungannya?
Apakah masih saja ada manusia yang belum dapat meng-“ada”?