Monday, January 9

Monday, January 09, 2006 - No comments

~ Rendez-vous (bagian II: perempuan) ~

@45363, coba mengingatmu... sudahkah kau tiada?




Lelaki, pelukmu tak lagi tercatat
meski kau lewat berkelebat.
Maaf.


Aku memang selalu mengingat.


Tapi apa yang coba kubangkitkan kembali?
Kau telah mati
lama sejak kau memelukku.




Siang terang benderang. Aku menelusuri jalan kembali padamu. Tepat saat kau sekarat menimbang apakah kau akan mengaku rindu, mudah bagimu menemui aku diam sendiri seolah tak pernah pergi. Buatmu aku nampak pulang. Bagiku aku hanya bertandang untuk pulang. Bukan padamu.


Ternyata rumahmu yang dulu kuimpikan bisa kubagi berdua ketika ada kata "kita" sudah banyak berubah. Tidak terbaca keterikatanku dulu padamu, pada rumahmu. Dapat jelas kulihat kau hidup selibat, dan kuakui aku tak percaya. Sebab itu harusnya jadi tanggunganku atas dambaku kita bersama. Kau yang bernafas bebas, sedang aku terengah lelah. Sakit itu harusnya milikku. Kau harusnya tersenyum beku, masih seperti dulu.


Kabar itu datang pada malam takbiran. Aku menebak-nebak sebisaku, adakah rindu sedang mampir pada hujan di atapmu? Tidak. Dulu aku pernah menghabiskan waktu menunggu kau merindu, ternyata kelu. Jadi kupikir kali ini pun tidak. Hanya sebuah sapa biasa. Karena kau bagiku pun sudah tak lagi luar biasa.


Aku bertanya pada diri sendiri, untuk apa lagi ada di sini. Tak ada lagi yang tersisa untuk bisa jadi cerita. Hujan selalu menjadi pertemuan kita. Tak pernah tidak. Jadi buatku tak perlu lagi kuangankan kau dan aku menjadi kita. Apa lagi yang hendak kita pamerkan satu sama lain selain sakitku dulu dan sakitmu kini? Sudah cukup kita berkaca dan mendapati tiada bahagia seandainya kita bersama.


Hujan tak lagi mistis. Aku menemukan pengetahuan baru bahwa air hanya jatuh dari langit tanpa harus dijampi-jampi. Aku tiada lagi pernah meminta harap muncul dalam hujan. Kau ada di rumahmu, entah dengan siapa bahkan sedang apa. Aku tak perlu peduli. Aku menutup luka menganga sebisaku, berkoar tak akan kembali pada luka lama yang terus saja kaugarami berulang kali meski tanpa sengaja. Sebab luka hanya kutemui bila aku denganmu, maka biarkan tidak lagi aku tersia.


Kutemukan kembali kesadaranku waktu hujan mengetuk ritmis. Aku sekedar singgah, bukan pulang menujumu. Sudah ada yang lain. Kau dan aku tahu itu. Lalu kucoba tidak beku membatu, tapi nyatanya dendam yang kuperam menggerakkan sekujur tubuhku ke arah berlawanan. 


Aku menghindarimu, untuk pertama dan terakhir kalinya. Padahal kau demikian merinduku, pertama dan juga mungkin terakhir kalinya dalam sekian putaran waktu yang sempat kita bagi bersama. 


Terimakasih untuk itu.
Sekarang tidak. Aku menolak paksa ketika aku telah utuh penuh kauterima dan kaudamba. Tak perlu lagi repot-repot menebus rasa bersalahmu karena telah menyakitiku. Aku menyembuhkan diriku sendiri, tanpamu. Aku kenal takut yang kaukunci rapi dalam sudut hatimu. Aku pernah hidup dengan tubuh sendiri yang tak lagi kukenali milik siapa, hanya untuk menegaskan atasku kau demikian berkuasa.


Maka kini aku berjarak darimu, membuka mata ketika kau mengecupku dan mengeraskan hati saat kau merengkuhku. Sihirmu hilang. Kau hanya manusia biasa, bukan lagi mahadewa. Kali ini terpaksa kutahan-tahan tega melihatmu jungkir balik sendiri. Aku sudah pergi, dengan siapa yang menungguku di apa yang bukan lagi masa lalu. Kuharap aku tidak bersalah kali ini.


Ternyata kita memang hanya tertinggal di masa lalu tanpa kau nyata di situ. Hujan pada bunga sepatu bilang begitu. Mencoba tidak iba pada kerapuhanmu hidup sendiri kini, justru aku menunggumu kapan lagi melepasku berlari pergi kalau langit masih saja kelam.


Tidak butuh hujan untuk mengajakku pulang. Tujuanku bukan padamu. Aku mencermati hening, lalu perlahan pasrah pada alam tanpa harus merasa jadi remuk redam. Telah kubangun rumah sendiri di masa kini untuk tempatku istirah kapanpun aku mau, seperti dulu terbiasa engkau.


Kulihat kau meredup, memudar. Kau bukan lagi cahaya... setidaknya bukan buatku. Karenamu sendiri. Karena keenggananmu berbagi kata "kita" denganku, berpikir pasti akan ada yang jauh lebih baik dariku di luar rumahmu. Menunggu untuk mencintaimu. 


Kau salah. Rumahmu memintaku. Kau menginginkanku. 
Bisa kupastikan sekarang adalah sungguh.


Tapi apa yang indah hanya kutemui pada lembar-lembar puisi yang sempat kutulis. Pasti, semua tentangmu. Aku tidak menyesal. Tak pernah. Kau membantuku berkarya, dengan indah pula. Aku justru harus berterimakasih atas itu. Sempat ada kau yang luar biasa kucinta sampai semua kata menjelma indah berbusa. 


Kapan kalau sempat akan kucipta antologi, sekedar mengabeni mimpi lama jadi asap dan abu. Biar kenang tentangmu tenang terbawa angin, singgah di semua tempat hingga tak perlu kusimpan kenang tentang engkau dan sebuah rumah untuk pulang. Biar orang lain yang membaca dan tahu sempat ada mahadewa yang pernah kupuja. Kini, biar saja aku hidup tanpamu lagi.


Adakah waktu yang lebih tepat selain sekarang?


Maaf sekarang aku lupa. Segala-gala.
Rengkuhmu, kecupmu, tatapmu, sentuhmu, baumu. Cintaku yang telah pergi. 
Maaf.


Lelaki... tidak ada waktu yang lebih tepat selain sekarang.



0 comments: