Monday, October 25

Monday, October 25, 2004 - No comments

~ Pasrah ~

@45363, if that what it takes.




Aku menyerah.
Tak mampu memenangkan hatiku yang menginginkanmu.
Keputusanku adalah mencintaimu sedemikian hingga kukorbankan bahagiaku.
Itu jauh lebih berarti dari seribu tahun bersamamu.


Selamat menempuh hidup baru: 
tanpaku !!!



Monday, October 25, 2004 - No comments

~ Infertile ~

@45363, i'll do... for your own good.




Mendadak aku jadi benci menulis. Entah kenapa.
Mungkin karena aku habis kata.
Sebab semua kata ada padanya: cahaya.
Maka ketika dia redup aku pun sirna
, tiada lagi ada.



Monday, October 25, 2004 - No comments

~ Farewell ~

@40235, tepi ranjang pagi hari awal minggu. 
lebur aku dalam ikhlas pengorbanan.



Escapist dorm, nol lima tiga delapan.
Gunung Bandung berkabut.
Beku.


Demikian pula hatiku membatu.
Saat kauminta aku melepaskanmu dari rantai itu
sambil mengigau katamu, "let me go, please.."


Damn!
You know i surely will...
just to make you shine again.



Thursday, October 21

Thursday, October 21, 2004 - No comments

~ One Big Question ~

@45363, saat belajar pasrah.




Bramadita, ajarkan padaku bagaimana caranya ikhlas...


Sebab aku tak pernah tahu
apakah engkau pergi karena benci dekat denganku
atau justru karena kau takut telah jatuh cinta padaku
(just let me know if you do).








Sunday, October 3

Sunday, October 03, 2004 - No comments

~ Menjuduli Antologi ~

@45363, linglung akan cinta.
(sebab saya belum pernah mabuk tapi saya sering linglung)





Silakan saja sebut ini adalah arsip buku harian.
Tema yang saya usung juga akan melulu c-i-n-t-a


Mari bosan, sebab dengan begitu
maka pembaca belum tumpul afeknya
seperti saya.



Sunday, October 03, 2004 - No comments

~ Aku, Lelaki, dan Sesuatu Bernama Pheromone ~

@40235, sehabis berita simpang siur.
I Love Him... still and will.




Satu: Aku yang menapakkan kaki memasuki wilayah Lelaki.
Aku hanya perlu datang (mendaki gunung lewati lembah) untuk sampai pada pondoknya.
Apalagi saat tanah basah bekas hujan begini.


Dua: Lelaki yang menuntunku kembali pada Pheromone.
Aku hanya perlu datang (tanpa perlu dipanggil) untuk mencari peluk.
Apalagi saat rindu itu menguar tanpa diminta.


Tiga: Pheromone itu.
Kutemukan lagi di kamar mandi dua kali dua dengan ubin kuning dan kerak tak terurus.
Kutemukan lagi di gantungan baju dengan kaos oblong putih dekil dan jeans belel tak dicuci.
Kutemukan lagi Lelaki.
D I A.


Empat: Aku, Lelaki, dan Pheromone itu.
Masih saja kami terbelit jaring tak berujung tak berpangkal.
Dan aku mengais tangis di balik bau otentik yang terpatri dalam memori.


Friday, October 1