Thursday, January 9

Thursday, January 09, 2014 - , No comments

H9. Tepi Laut

60285, Two Weeks Writing Challenge D9. Write A Love Story.


Tanggal sembilan, bulan sembilan, tahun dua ribu sembilan.

Mungkin Tuhan lebih paham... selama ini, kita saling menyimpan diri kita untuk satu sama lain. Kita hanya menunggu waktu yang tepat dan tempat yang tepat agar bisa saling bertemu di antara persilangan empat penjuru mata angin. 
Lalu ada yang datang di antaranya: Cinta.

Mungkin Tuhan sudah berencana... bahkan jika di antara kita ada begitu banyak jurang yang perlu dijembatani, gunung yang perlu didaki, samudera yang perlu diseberangi namun kita bisa berdua, meski memang tak selalu harus bersama.

Kau tahu, di hari itu, langit terang dan cahaya matahari berlimpah untukmu bisa memotret cerlang mataku dari balik lensa Nikon D40 milikmu. Aku tak tahu bahwa itulah saat di mana kau menangkapku, segala suka segala luka yang membentuk diriku jadi aku apa adanya. Kau belum mengajakku berkenalan. Telapak tanganmu masih terulur malu kepadaku. Ada banyak hal lain yang lebih penting menunggu untuk dilakukan: solidarity in humanity.  

Aku tahu, di hari itu, langit terang dan cahaya matahari berlimpah untukku bisa memancarkan hal yang paling kuangankan dan baru bisa terwujud belakangan. 
KEBEBASAN.
Setelah sekian lama, aku menemukan kembali kebebasanku yang sempat hilang dalam empat tahun tanpa arah. Anehnya, aku baru merasa selama ini aku tak pernah terpenjara. Aku hanya kehilangan keberanian untuk melangkah pergi. Itu saja. Ternyata setelah aku berani pergi, ada banyak hal di luar sana yang menyambut diriku yang baru. Termasuk kamu, diam-diam, dalam doamu tiap malam dari puncak ngarai sepi.

Kemudian kita bersalaman.
Di tepi Laut Selatan.
Debur ombak mengabur di kejauhan.

Belum jatuh cinta.
Belum saling mendamba.
Tuhan berkata, "Belum saatnya."

Kita perlu memulai perkenalan.
Saling tersenyum, mencium.
Saling mencaci maki, menarik diri. 
Saling rindu, ingin lekas bertemu.
Saling membutuhkan, melengkapi kebersamaan.
Kita perlu lanjut berjalan beriringan. 

Mungkin Tuhan sangat pandai berencana... sementara kita berdua hanyalah manusia yang tak pernah tahu apa-apa. 

Sekarang tanggal sembilan, di hari kesembilan tulisanku. 
Siapa yang tahu berapa sembilan akan mampu kita pertahankan?

Saat ini yang kutahu, pagi ulang tahunmu.
Sudah kuucap doa agar kita bersama berdua
dalam kisah cinta yang belum kita tahu kemana akhirnya.

Thursday, January 2

Thursday, January 02, 2014 - , No comments

H2. Perahu Kertas, Belajar Tak Melepas

40135, Two Weeks Writing Challenge D2. Write A Fanfiction


"Dengan saya, kamu tak perlu pergi jauh ke tengah laut hanya untuk melarung perahu kertas berisi cerita-cerita yang tak bisa kausampaikan pada manusia. Dengan saya, kamu hanya perlu ada, Gy."

Remy bilang begitu di tepi Ancol waktu itu. Dia meminta bertemu setelah menemukan selembar surat yang tak pernah dikirimkan Kugy untuk Keenan terselip di buku dongeng buatan tangan yang dipinjamkan kepadanya. Ralat, diberikan. Justri karena itu adalah pemberian, maka Remy merasa di atas angin untuk membuangnya tepat di depan mata Kugy. 

Ada yang perih di ujung mata Kugy. Ia pikir mungkin itu air asin yang masuk tak sengaja dari samudera. Tapi bukan. Itu justru air asin yang keluar tanpa sengaja dari pelupuknya, saat Remy mendekat dan mulai memeluk. 

"Kamu mungkin sudah ketemu orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segalanya. Sementara saya... Selama ini saya belum ketemu siapa orangnya. Saya memang ketemu kamu. Tapi semua yang kamu lakukan adalah karena saya meminta." kata Remy pada Kugy. 
Kugy tahu kemana kalimat ini berujung. 
Remy tahu bagaimana reaksi akhirnya. 

Tapi kisah ini begitu mudah diterka, begitu sulit dicerna.

"Biarkan saya bebas memilih, Rem. Meski hati tak perlu memilih, namun untuk sekali ini saja saya ingin bebas memilih. Saya tak ingin kamu lepas. Saya sudah cukup puas bermain dengan sekian banyak perahu kertas. Saya butuh berlabuh. Dan buat saya, pelabuhan paling nyaman yang memahami saya lebih daripada saya bisa memahami diri saya sendiri, adalah kamu."

Kugy mengeluarkan perahu kertas terakhir dari dalam saku celananya. 
Di kertas itu tertulis, "Selamat tinggal, Nus. Aku akan mengarungi samuderaku sendiri. Tak lagi kepadamu aku harus berbagi. Sebab kini, aku sudah punya Remy."