Tuesday, November 1

Tuesday, November 01, 2005 - No comments

~ Mencari ~

@temporary house of mine, missing us.


Ada yang pergi memaki jalan yang menjauhkan katakata
Ada yang datang pada masa lalu di sebuah buku cerita
Adakah itu kita?

Friday, July 29

Friday, July 29, 2005 - 2 comments

~ Perempuan Pilihan ~

@45363, dominasi lelaki.




Enak bercinta dengan perempuan.
Sesudahnya selalu ada yang tahu kapan harus membereskan ranjang berantakan.
Menyapu lantai dimana helai rambut bertebaran.
Menyulutkan rokok, menyuguhkan wedang.
Untuk kemudian lelaki bebas pergi tanpa pesan, meninggalkan dinding-dinding bergetar.



Wednesday, July 20

Wednesday, July 20, 2005 - 1 comment

~ Pagi Lagi saat Lelaki Berganti ~

@45363, saat jarak sengaja diciptakan untuk menjaga kewarasan.




Bangun pagi dan kutemui lelaki terlelap di sampingku. Air mata perempuanku menitik satu.
Bajingan yang lain lagi... mampir hanya untuk melewatkan malam,
mengendapkan puisipuisi basi.
Ingin kutiup pergi, tapi justru kulingkarkan kaki pada balutan selimut kusut.


Senyap tanpa wujud. Desah nafas dan detak jantung: ritmis menawarkan kabutkabut magis.
Aku teringat lelakiku... 
satu yang bukan bajingan di antara sekian banyak yang bertandang.
Terbiasa kucatatkan tentang dia pada tiap matahari pertama mencungkil mata,
tapi pagi ini retak dadaku meminta lain,
"Ganti saja pangeran tampanmu itu, perempuan. Mungkin karena terlalu sering kau menciumnya maka dia kembali menjelma kodok kubangan."


Aku melipat selimut, tapi urung. Aku menyiapkan rokok dan kopi, juga urung. Aku menyibak tirai, masih urung. Untuk beranjak mencium pun aku urung.
Semuanya urung... sebab itu kebiasaanku dengan lelakiku terdahulu.
Bisa jadi lelaki puisi yang ini tak menginginkan apapun selain aku sebagai santap pagi.
Mungkin juga segelas Nutrisari untuk berkumur ludah sisa dini hari.


Hatihati kupilih kata, mengingat diamdiam untuk kemudian dirangkai jadi puisi lain untuk lelaki yang lain. 
Entah bajingan entah bukan, nanti saja kuputuskan. Kini aku sedang tak peduli, meski bukan berarti dia tak ada arti.
Hanya ingin mencatat:
"Bukan karena kelaminku perempuan maka buatku semua lelaki adalah bajingan."


Sekedar ingat pagi berderap dengan syarat tiada antara kami yang berharap.
Kantuk menguap, "Apa maumu selain tubuhku, bajingan?"
Lantas tangis: pengkhianatan.


Mentah jika bicara rasa.
Aku peka, tak tuli tak buta.



Friday, July 15

Friday, July 15, 2005 - No comments

~ Treasure Hunt ~

@45363, kok sepi ya kalo kamu gak ada?




Uh, akhirnya kutemu buku puisiku lagi.
Terserak dalam kardus SiPiYu belum terbongkar sejak pindah kos.


Kusiapkan pena menerjang,
menuliskan kehilanganmu pada hariku.
NGILU !!!


Aku mengirimimu tanya, HendraSagitaPutra:
rindukah kau padaku?



Monday, June 13

Monday, June 13, 2005 - No comments

~ Another Call ~

@45363, u brought me shiver and good news.




Bapak, terimakasih telah menghubungi.


Saat kukenali suaramu lagi....
Terimakasih telah mendatangkan kembali gempita.
Terimakasih telah mengusir pergi derap duka.


Bapak, terimakasih aku masih boleh mencinta...



Monday, June 13, 2005 - No comments

~ Fellatio ~

@45363, doa berkalang dosa.




Begitu mudah manusia menjilat dosa.
Tuhan nelangsa ada di mana? Terselip di ketiak siapa?
... tabu bagaikan marka jalan yang bisa begitu saja diabaikan.



Saturday, April 23

Saturday, April 23, 2005 - No comments

~ Netral ~

@45363, saat hampir baal.




Kenangan...
pahit atau manis,
kita sendiri yang memilih untuk membumbuinya.
Dan merasakannya.



Tuesday, April 5

Tuesday, April 05, 2005 - No comments

~ Rise and Life ~

@45363, use yourself.




Berhenti saja menuliskan kejatuhan. Saatnya mengawali kebangkitan.
Tidak perlu uluran tangan.
Tidak perlu batu pijakan.
Berhenti saja mengangankan kematian. Saatnya memaknakan kehidupan.



Sunday, March 27

Sunday, March 27, 2005 - No comments

~ Takes Two ~

@45363, sebuah lagu menyelinap di malam senyap.




It takes two hearts to fall in love...
and I know we can never make it true.

Sunday, March 27, 2005 - No comments

~ Duh, ~

@45363, butuh orang lain untuk bisa yakin.




Teman, aku memang menyerah kalah pada sebuah rantai yang kuikatkan sendiri.
Kini aku ingin pergi
... dan kau menahanku di sini.


Teman, aku memang menangisi keping diri yang kukais dari masa lalu.
Dulu aku ingin dia untukku
... dan kau membiarkanku melaju.


Teman,
masihkah kaubantu aku di masa depan untuk sekedar berpegangan?



Tuesday, March 22

Tuesday, March 22, 2005 - No comments

~ Mukadimah Lima ~

@45363, usia ganda duadua.




Waktu adalah sesuatu yang tak henti mengalir.
Jadi tak guna manusia berdiam diri dalam sebuah titik statis.
Tidak.


Jangan berharap hidup akan berlaku baik, sebab sekeranjang kejutan dalam menjalani kehidupan biasanya akan lebih menyenangkan.


Mari.
Lewat waktu yang berganti, manusia belajar hidup dan menghidupi.



Thursday, March 3

Thursday, March 03, 2005 - No comments

~ Apatis ~

@45363, how important is it to be normal?




Aku berdosa karena aku berbeda.
Salah itu pilihan. Benar itu melelahkan.
Semua orang berlomba-lomba menuju surga.
Aku bahkan tak peduli Tuhan meletakkanku di mana.



Wednesday, February 2

Wednesday, February 02, 2005 - No comments

~ Painkiller ~

@45363, dengan jelas mampu kubayangkan dirimu.




Aku hanya ingin kau memelukku.
Tidak lebih.


Tapi saat sebuah peluk tidak lagi mengobati luka,
dimana lagi kan kucari tanda bahwa itu
masih dirimu yang kusekap sekian waktu?



Wednesday, February 02, 2005 - No comments

~ Antara Langit dan Bumi ~

@45363, kita hanya berseberangan. H A N Y A.




Langit: tempat berpijak tanpa jejak.
Bumi: tempat menetap hingga lenyap.
Merentangkan jarak antara
manusia sempurna dengan bidadari sejati.


Kalau lelaki menulis, berarti menjenguk kenang tentangmu.
Hijau gunung.
Tanah basah.
Senyap kamar.
Geliat ranjang.
Kusut selimut.
M A T E R I.


Kalau perempuan menulis, berarti menjenguk kenang tentangnya.
Bias bulan.
Rintik hujan.
Kabut hati.
A B S T R A K S I.



Wednesday, January 5

Wednesday, January 05, 2005 - No comments

~ New Year ~

@45363, awal tahun tapi masih akhir langkah.




Mengenang tanggal yang sama
setahun mundur dari waktu kini.


Apa yang telah salah kukatakan?
Apa yang hendak kuikatkan?
Hatiku padamu-kah?


Kalau begitu... semestinya justru aku yang merugi.