40135, nasi goreng gila daging kambing.
Gerimis rintik.
Di warung nasi goreng.
Pasangan di sebelah saya, masih muda sepertinya,
seumuran awal kuliah sesama mahasiswa perantauan.
Mereka makan dengan menu biasa,
dua piring nasi goreng kecap dan sewadah kecil sambal goreng ati buatan rumah sebagai tambahan lauknya.
Tik.
Ada basah yang bukan hujan, jatuh ke punggung tangan.
Betapa bahagia bisa demikian sederhana...
hanya seharga belasan ribu berdua
pada sebuah Sabtu malam gerimis di warung nasi goreng pinggir jalan.
Mengapa bahagia bagi saya teramat mahal rasanya...
sekedar mengamati pasangan lain, tanpa kesamaan pengalaman?
40135, infatuation junkie.
Bukannya aku mulai melupakan.
Hanya saja, aku memilih untuk berhenti mengingat
apa yang telah lama lewat.
Buatku, mungkin juga buatmu,
apa yang pernah kita punya adalah indah.
Tak mewah, memang.
Hanya sekedar kekupu beterbangan di perutku dan denyar di kulitku saat kita bersentuhan.
Entah bagimu,
apa ada beduk bertalu di dadamu dan pening di kepalamu
ketika kita bercumbu.
Namun itu dulu.
Saat kita masih bebas tanpa belenggu dan belum lagi saling cemburu.
Saat kita duduk saling pandang dengan tatapan malu-malu.
Kita belum tahu benar apa itu Cinta,
dengan segala konsekuensi yang dibawanya.
Kita hanya bisa bilang,
kita menikmati setiap waktu dimana kita bisa berdua.
Lalu datang badai.
Apa yang kita kira akan tangguh sepanjang masa
ternyata harus kita relakan porak poranda.
Apa yang kita kira akan berlangsung selamanya
ternyata hanya bertahan sementara.
Saat itu baru aku tahu, tak perlu ada dirimu untuk membuatku bahagia selalu.
Aku tak cukup mencintaimu untuk menukar kebebasan dengan kelekatan.
Aku tak cukup mencintaimu untuk menanggung segala kekhawatiran yang kian bertumbuh
membuatku rapuh.
Kepada segala yang sempat lekat,
engkau perlu tahu
aku memilih untuk berhenti mengingat.
Sebab denganmu,
aku bahkan tak lagi mengenali siapa diriku
aku bahkan hilang arah kemana hendak kutuju
aku bahkan menjelma lugu,
tak tahu ada dunia yang lebih luas daripada kita di luar sana.
Maka baik kiranya, setidaknya buatku,
jika aku melupakan apa yang memang seharusnya jadi kenangan.
40135, Langit Amaravati.
Rasanya seperti aku telah menghabiskan seumur hidupku mengenalimu.
Percayalah.
Aku kenal betul perempuan sepertimu.
Bahwa kepalamu sekeras batu dan hatimu dingin membeku.
Betapa bibir mungilmu seringkali merekah basah,
namun mulutmu selalu tajam terasah.
Seperti tak habis kau benci Hidup, kau rutuk Cinta, kau maki Waktu.
Perjalanan dan pengalaman mengajarkanmu satu hal:
pahit getir yang membuatmu nyinyir.
Memang aku kenal betul perempuan sepertimu.
Yang diam-diam memeram dendam, merawat kesumat, menjaga nyala, merentang tegang.
Dalam hatimu, sungguh tak ada celah tersisa yang tak dipenuhi duri.
Engkaulah penyuka cahaya, paling terang dalam sorot menyilaukan.
Engkau tiada henti dipuja, tampil lebih memukau dari kerumunan orang kebanyakan.
Sayangnya, hanya sedikit yang tahu,
bahwa gelap dan sepi yang datang saat engkau ditinggalkan sendirian
dapat membuatmu demikian takut untuk beringsut.
Percayalah.
Telah kukatakan bahwa aku kenal betul perempuan sepertimu.
Rasanya aku demikian akrab mengenalimu.
Dalam cermin, aku bahkan melihat matamu balik menatap padaku.
Kulihat air mata berjatuhan tanpa suara
... ketika berpayah kaulepas topeng yang terlanjut rekat di kulit wajahmu.
Pantas saja,
aku kenal betul perempuan sepertimu.
40135, penyesalan selalu datang belakangan karena yang duluan adalah pendaftaran.
Mungkin kelak,
aku akan berhenti berbicara jika kau mulai mendengarkan
aku akan berhenti meminta jika kau mulai memberikan
aku akan berhenti merajuk jika kau mulai mempedulikan
aku akan berhenti bertanya jika kau mulai memastikan.
Mungkin kelak,
ketika sudah habis tinta
untuk menuliskan kisah cinta
maka kau mulai tertarik membaca
luka yang tergurat dalam tiap abjadnya.
Dan mungkin kelak,
saat masa itu tiba
aku sudah terlalu jauh pergi
untuk bisa kau panggil kembali.
Sebab sesal,
memang tak pernah hadir di awal.
40135, hilang arah.
“Itu jalan panjang berliku.”
Begitu pikirnya waktu pertama kali menapakkan kaki.
Bukan hanya waktu itu,
sebab sekarang pun masih.
Dulu ia berangkat dengan semangat menyala-nyala,
sedang sekarang ia harus mati-matian
menjaga apa yang tinggal bara.
Sekian waktu berlalu.
Kakinya sudah perih,
hatinya sudah pedih.
... tapi jalan ini, tiada jua ada ujungnya.
Ia bahkan tak tahu kemana menuju
atau siapa yang kelak menyambutnya
dengan dekapan penuh merindu
serta cangkir hangat di beranda.