@45363, dominasi lelaki.
Enak bercinta dengan perempuan.
Sesudahnya selalu ada yang tahu kapan harus membereskan ranjang berantakan.
Menyapu lantai dimana helai rambut bertebaran.
Menyulutkan rokok, menyuguhkan wedang.
Untuk kemudian lelaki bebas pergi tanpa pesan, meninggalkan dinding-dinding bergetar.
@45363, saat jarak sengaja diciptakan untuk menjaga kewarasan.
Bangun pagi dan kutemui lelaki terlelap di sampingku. Air mata perempuanku menitik satu.
Bajingan yang lain lagi... mampir hanya untuk melewatkan malam,
mengendapkan puisipuisi basi.
Ingin kutiup pergi, tapi justru kulingkarkan kaki pada balutan selimut kusut.
Senyap tanpa wujud. Desah nafas dan detak jantung: ritmis menawarkan kabutkabut magis.
Aku teringat lelakiku...
satu yang bukan bajingan di antara sekian banyak yang bertandang.
Terbiasa kucatatkan tentang dia pada tiap matahari pertama mencungkil mata,
tapi pagi ini retak dadaku meminta lain,
"Ganti saja pangeran tampanmu itu, perempuan. Mungkin karena terlalu sering kau menciumnya maka dia kembali menjelma kodok kubangan."
Aku melipat selimut, tapi urung. Aku menyiapkan rokok dan kopi, juga urung. Aku menyibak tirai, masih urung. Untuk beranjak mencium pun aku urung.
Semuanya urung... sebab itu kebiasaanku dengan lelakiku terdahulu.
Bisa jadi lelaki puisi yang ini tak menginginkan apapun selain aku sebagai santap pagi.
Mungkin juga segelas Nutrisari untuk berkumur ludah sisa dini hari.
Hatihati kupilih kata, mengingat diamdiam untuk kemudian dirangkai jadi puisi lain untuk lelaki yang lain.
Entah bajingan entah bukan, nanti saja kuputuskan. Kini aku sedang tak peduli, meski bukan berarti dia tak ada arti.
Hanya ingin mencatat:
"Bukan karena kelaminku perempuan maka buatku semua lelaki adalah bajingan."
Sekedar ingat pagi berderap dengan syarat tiada antara kami yang berharap.
Kantuk menguap, "Apa maumu selain tubuhku, bajingan?"
Lantas tangis: pengkhianatan.
Mentah jika bicara rasa.
Aku peka, tak tuli tak buta.
@45363, kok sepi ya kalo kamu gak ada?
Uh, akhirnya kutemu buku puisiku lagi.
Terserak dalam kardus SiPiYu belum terbongkar sejak pindah kos.
Kusiapkan pena menerjang,
menuliskan kehilanganmu pada hariku.
NGILU !!!
Aku mengirimimu tanya, HendraSagitaPutra:
rindukah kau padaku?