Sunday, March 28

Sunday, March 28, 2010 - No comments

~ Surat kepada Hati ~

@40161, menulis dengan sepenuh hati.




Setulusnya. 
Dalam bahasa apapun yang biasa digunakan manusia untuk menyampaikan rasa.
Hati tersayang...
maafkan pemilikmu ini ya?



(Yang seringkali menyaratimu
dengan beban yang kebanyakan tak perlu,
hanya agar aku tahu
hati pasti sanggup menampungnya.



Yang seringkali mengisimu
dengan muatan negatif yang tiada habisnya,
hanya agar aku tahu
hati pasti bisa menetralkannya.



Yang seringkali mengabaikanmu
dengan tingkah polah yang demikian pongah,
hanya agar aku tahu
hati pasti mampu menerimanya.)



Betapa hati... demikian tabah dan tegar
atas segala yang kutimpakan padanya.


Betapa hati... pada akhirnya,
selalu mau dan mampu, sanggup dan cukup, bisa karena biasa
menanggung apaapa yang, pada awalnya,
tampak takkan sanggup ditanggungnya sendiri saja.



Sampai pada selepas hari
melalui mata ketiga karibku satu ini,
kujenguk hati kesayanganku yang ternyata belum juga mati.



Ia sakit. Ia letih. Ia rusak. Ia robek. Ia kumal. Ia lebam. Ia nanar.


Berdarah nanah dalam sesak yang membuatku terisak.
Tercerai berai dalam puing yang membuatku merinding.
Tetapi masih bertahan...
denganku.



Entah serupa apa warna mukaku
melihat kerusakan yang telah kutimbulkan padanya sedemikian rupa seiring waktu.


Hati.
Hatiku tersayang, dan satu-satunya...
Maaf.
Maafkan pemilikmu ini ya?





*Kubawa hatiku pergi, 
sambil berjanji sebisa mungkin sekuat tenaga tak merusaknya lagi*
(Aku baru tahu, 
bahwa bagaimanapun, hati manusia kuat sekali... ternyata.)




0 comments: