Monday, May 10, 2010 -
[Love Letters]
No comments
[Love Letters]
No comments
~ No Relation in A Relationship ~
Sabtu malam:
"Malam ini aku ingin denganmu."
Baru jam delapan. Aku tibatiba menunggu, dan deadline tak lagi nomer satu. Ini malam Minggu, hujan seharian cukup membuatku mengangankan pelukmu. Seperti mimpi aku menyambutmu. Pulang adalah kata yang langka bagi petualang sepertimu. Tapi tak urung kita berdekapan berciuman... entah sampai kapan. Aku tak mau tahu tentang waktu. Sebab waktu biasanya merampas para lelakiku tanpa kenal belas kasihan. Tak peduli aku tertinggal sendirian.
"Esok pagi aku tidak tergesa pergi. Tidak lagi."
Aku tersenyum (terjemahan manual book sepertiga jadi, senandung meditasi Buddha dan Sufi, vodka Vibe, The Time Traveler's Wife, Facebook, Gibran dan Rumi, Alvin and The Chipmunk Squeakquel, pesan antar Mc'D, separuh Cash, pijat punggung karena kembung... dan kau masih di sini).
Minggu siang:
"Selamat pagi."
Matahari sudah tinggi. Hampir tepat di atas kepala ketika kita terjaga. Ini Minggu, layak untuk dinikmati seharian di kamar saja. Aku bangun linglung karena tak biasanya kau ada. Biasanya kau sudah pergi ketika angin bahkan belum bertiup ke Selatan. Menguapkan mimpimimpiku yang semalam belum genap. Membuatku tak berani berharap. Sebab kau tak menetap. Bahkan sekedar sarapan berdua pun jadi hal langka bagi kebersamaan kita. Teganya waktu yang menggilas kita tanpa kenal ampun. Teganya hidup yang memaksa kita bertahan dalam kesendirian, jauh dari masingmasing.
"Mau kemana kita hari ini?"
Aku tersenyum (kopi dobel tak tandas, Facebook, roti panggang salted-butter, sup makaroni, Yakult, Diatabs, separuh Cash lagi, alunan Celtic Sanctuary dan Natural Therapy, seperempat The Hangover, tidur sore, susu kaleng, luka gores di telunjuk kanan, terjemahan manual book tak tersentuh... dan kau masih di sini).
Minggu malam:
"Ada yang tertinggal."
Jam delapan malam di hari berikutnya. Senyumku hilang dan berganti. Sudut mulutku datar pada awalnya, lalu mengerucut dan kau sadari. Tapi kita tak pernah berteman akrab dengan waktu. Tak bisa seenaknya minta diskon spesial karena kita pelanggan baru. Harusnya aku memang tak pernah beranganangan tinggi. Sebab tinggi sakit jatuhnya nanti. Dan pahit itu kutelan sendiri, bersama asap yang mengabur pelan karena kau pergi, lagi. Aku perempuan, yang kembali ditinggalkan.
"Kau tahu bagaimana rasanya jadi aku."
Aku menangis (terjemahan manual book tinggal separuh, seafood D'Cost bersama batal, Blind tak jadi, Gokana penuh sekali, Treehouse tak baik buat spekulasi, Combo Teppanyaki dan Steak, jus melon segar, teh tawar peredam mulas, percakapan profesi... dan kau sudah tak di sini).
"Tidak! Aku tidak tahu! Aku tidak mau tahu!"
Begitu aku teriak pada malam yang mendadak dingin ketika kau tak ada.
Kulirik sekilas terakhir kalinya,
kotak rokok kita berjajar di meja: Lucky Strike Menthol dan Lucky Strike Filter.
0 comments:
Post a Comment