@40611, hujan tiada henti mengabarkan melankoli.
Ada api yang tak mau mati,
waktu dia mengejamu sepenuh hati.
Seperti air mata yang tak bisa tumpah ruah.
Aku memilih buta,
daripada melihatmu dengannya.
Aku memilih tuli,
daripada mendengarmu dengannya.
Seperti kataku...
kalau aku mulai pasti,
lantas kenapa engkau berpaling pergi?
@40611, duh gusti paringi kula sabar...
Aku ingin bersamamu
karena memang kau patut bersamaku
... bukan karena aku takut sendirian tanpa pasangan.
Aku ingin mencintaimu.
karena memang kau layak dicintai
... bukan karena aku tak berdaya tanpa cinta.
Aku ingin menginginkanmu karena kamu.
Bukan karena keinginanku.
Kebersamaan: demikian menggiurkan.
Kesendirian: demikian menakutkan.
Aku ingin denganmu, tapi juga tak ingin lari dari diriku.
@40135, coba baca ini terbalik buatmu, Hendra Sagita Putra.
"Berbaik hatilah,
biar aku punya hidup dan kehidupan.
Punya mimpi, cinta, dan citacita.
Punya kepastian dengan siapa harus menghirup hidup.
Punya (perempuan) tempat muara rindunya yang kikuk."
"Dan karena kamu hidup bersamaku
melihatku utuh dalam bentuk hitam-putih-abu
dan sekian rupa lainnya,
tanpa pernah aku berusaha untuk berpurapura,
lebih dari siapapun yang pernah berpasangan denganmu."
"Kamu (harusnya) sudah cukup punya dasar
untuk memudahkan kamu memutuskan.
Aku tidak akan berusaha membencimu."
"Jika memang harus, biarkanlah aku (setidaktidaknya)
mengingat engkau indah."
"Itulah yang kumaksud, berbaik hatilah."
@45363, back to basic telepathy.
Hujan turun
mengaburkan jejakmu.
Aku tersesat di antara teduh dedaunan dan wangi bebungaan.
Tertinggal pada kita
masingmasing hanya menyimpan ingatan
... remah percakapan singkat.
Tak cukup menahan lapar
justru membangkitkan dahaga.
Kau melaju di antara bising asing: sama merindu seperti aku padamu.
@40161, sendiri untuk berdua.
Ah, tahu apa aku tentang rindu?
Itu sendu yang masih tabu.
Ah, tahu apa aku tentang cemburu?
Engkau mencintaiku dengan sederhana...
kadangkala tanpa perlu ucap kata,
hanya tatap mata.
Cukup aku tahu itu.
@40153, and here it comes the Love itself.
Her
Dear, tonight I will walk the road alone again.
Looking for someplace to sleep over,
because I have to wake up early for tomorrow's activity.
What are you doing now?
Him
I'm wandering,
whilst waiting for what to do next.
I lose someone in my circle.
Seems like it's going to be a rough traveling night for me, Babe.
Her
My deepest condolence for you.
Dear, I hope you still have enough time to take enough rest.
Him
I will. I hope.
Thank you so much for taking care of me.
I luv U, Babe...
Her
And I luv U, Dear...
@45363, worth dying for worth living for.
Sembunyi aku,
di balik lelagu buatmu.
Aku percaya... tanpa tapi.
Padamu:
sudah aku kelu,
sudah aku ragu,
sudah aku rindu,
sudah aku tersipu,
sudah aku cemburu.
Warnawarni berganti.
Bagaimana bisa kureka waktu
untuk tepatnya tahu
padamu aku ...?
Ingin aku yakin.
(sedingin apapun angin, ia ada terasa.)
@40611, take back your hood and go fuck your own life!
Bagaimana kita bertukar kata
kalau bahasa kita berbeda makna?
Bagaimana kita berbagi rasa
kalau hati kita milik sendiri saja?
Terlanjur lengan kita menjauh. Seperti katamu, tak harus kita saling merengkuh.
@40611, kilat khusus lebih cepat sampai balasannya.
"Tunggu waktu."
Aku teringat itu,
katakataku,
buatmu.
Dan aku ditamparnya dengan katakata yang sama,
sampai bisu kelu beku.
@40611, terimakasih untuk udara yang tak kasat mata tapi selalu ada.
Pelukan angin lebih erat dibanding tambang yang mengikat,
belaiannya lebih lembut dari sutera yang membalut.
Bahasa angin adalah bahasa kekekalan yang sahaja,
bukan kekebalan yang membaja.
Mulailah mengejanya dengan nafas, ada seutas pesan yang hendak sampai.
Tak perlu kau berusaha memeluknya...
dia kan lembut membelaimu,
kan sigap membelamu.
@40611, sedalam duaenam - we are ready.
-kuharap akan segera tiba masanya, ketika kau bukan lagi sebuah rahasia
... melainkan nyata kucinta.
Malam ini,
kaucuri hangatku dari balik lipatan baju.
Sebab sejenak aku beku,
membiarkanmu kelu.
Malam ini,
kaukenali wajahku dalam gurat lelah tertahan rindu.
Sebab kau bersungut,
lebih menuntut.
Sungguh...
kuharap kau merasa cukup
hanya dengan disembunyikan di sudut tertutup
dikunjungi sesekali untuk peluk dan kecup
...
kuharap tetap kau hidup
(bahkan jika dalam ketaktentuan engkau tenggelam).
Pagi nanti,
kuingin dingin mendatangkanmu kembali.
Senyum selebar terbit matahari.
Sebagai hadiah untuk cintaku yang bertambah.
@40611, kau sempat ada. harusnya itu cukup.
Cinta,
kuajak engkau bicara tentang rasa.
Aku tak peduli bahkan jika engkau mengaku buta dan tuli.
Cinta,
aku lupa engkau begitu begitu peka.
Padahal kau sangat peduli jika aku menyeru kebas dan sepi.
@40611, rinduku selalu pada masa lalu.
Pukul tiga: pagi buta.
Nyaris aku menangis,
membacamu yang begitu manis,
menuliskanmu yang demikian iblis.
Sayang...
jika kenang dapat diputar ulang,
inginku kita tetap jadi sepasang.
Kau giat menghitung angka,
sampai lalai mengeja aksara.
Aku makin gelisah: mataku membasah hatiku berdarah.
@40114, adrenaline rush.
Aku,
air yang tenggelam dalam buram.
Dia,
api yang padam dalam kelam.
Engkau,
udara yang tak pernah cukup kutampung dalam dada.
...
selantang apapun kauteriakkan cinta
selama kita belum mewujud nyata
hanya akan menggema hampa.
@44177, terimakasih berarti menerima kasih?
Matahari merapat... sebentar lagi menyebar hangat.
Masih ada sisa bulan setengah di langit yang mulai merah.
Aku mendengar denting embun di ujung daun...
ketika kutandai delapan penjuru tempatmu menuju
dan tanda di tapakmu membisu.
Kau menemukan sarang untukmu kembali pulang,
sedang aku baru belajar terbang.
Apakah tak mengapa kita jadi sepasang?
Maka akan kujawab, iya...
jika saja aku bisa menatap jujur matamu dan menemukan bahagia mencinta di sana.
@44177, go flow... tomorrow we'll never know.
Aku mencari wangi lembut ibuku
pada aroma tegas lelakimu.
Kadang hanya desir semilir, kadang sampai puting beliung.
Sesekali damai membelai, seringkali ribut semrawut.
Satu pelajaran yang pasti tentang hati:
lanang petualang mata angin usah diharap terpegang ingin.
Sedang aku tak berbekal peta, maka wajar jika gerakmu tiada terbaca.
Entah timur-barat-selatan-utara, kau pergi ke mana suka.
Hanya rasi bintang
yang bisa menunjuk jalanmu pulang.
Dan ku tersesat...
pada kalimatkalimat yang kutelan bulatbulat.
Lupa akan semesta...
yang memberikan sekian penanda.
@44177 (akhirnyaaa... kode pos Cikelet Pamengpeuk Garut Selatan!)
-untuk semua yang telah atau akan "kawin, beranak dan berbah'gia"
meninggalkanku sendiri saja...
Indonesian
Aku kira:
beginilah nanti jadinya.
Kau kawin, beranak dan berbah'gia
sedang aku mengembara serupa Ahasveros.
Dikutuk-sumpahi Eros
aku merangkaki dinding buta.
Tak satu jua pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami
unggunan api ini.
Karena kau tidak 'kan apa-apa.
Aku terpanggang tinggal rangka.
English
I guess
these what we will be:
you marry, have baby, and happy
while I wander such Ahasveros.
Cursed by Eros
I creep at the blind wall.
No doors opened at all.
Things will be better
by turn off this fire.
For it will do you no harm.
But it will burn me, no longer warm.
@60285, panas begini surabaya.
Hai, kau... kelana kembara ;)
Dari Timur aku menyapa,
sekedar mengingatkanmu aku masih ada.
Tapi ternyata kau tak bisa lupa.
Aku ingat pernah kaucatat,
dari Barat kau akan melesat.
Pergi ke Timur,
menghabiskan sisa umur.
Lantas kita bertukar cerita, sementara...
Dekap dan kecup di antaranya, itu juga...
Kalau aku beringsut,
apa kau merasa takut?
atau justru jakunmu berdekut?
Ah, kau... kelana kembara ;)
Tak akan kupaksa kau tetap.
Biarkan engkau bicara tanpa tergagap.
Kita begini saja,
tak apa ya?
@40135, peluk kecup bagi semua yang tersayang. kalianlah tempatku berpulang.
Bermula dari Timur:
tempat segala terbit, aku belajar berjinjit.
Dari sana pula aku pamit.
Aku ingin belajar dari tempat dimana banyak cinta selain keluarga.
Berakhir (sementara) di Barat:
tempat segala benam, aku meluruh dendam.
Ke sana aku memeram.
Aku telah belajar dari tempat dimana keluarga pun ada gantinya.
Mungkin nanti ada masanya aku berhenti bertualang.
Sekarang,
aku sekedar tempat singgah bagi para kelana kembara sebelum bertandang pulang.
Ini petang aku melenggang.
Menyusur selatan pada kelok tebing dan jurang.
"Pulang!" kata mereka dengan rahang terpasang kencang.
Tak.
Aku tak mau tetap.
Aku hanya mau berderap sambil terus didekap.
Aku menjelajah alam,
masih banyak yang bisa ditulis jadi puisi.
Tanpa dendam,
tak akan ada lagi.
Kelak akan kubacakan dongeng bagi ayahbunda,
betapa timur hanya sebagian kecil dari lintang bujur dunia.
Aku ingin pergi ke tempat yang belum tersapu mata:
selatan, barat, utara.
Untuk sementara,
denganmu aku ingin berbagi langit senja yang sama.
Sebab esok tak kutemui lagi riuh suara dan canda tawa.
Jadi selagi bisa,
sampaikan salamku pada hangat benam matahari di ujung sana.
Dan kan kuingat kecupmu selama aku pergi berkelana.
Peluk aku erat,
biar kusimpan engkau hangat.
Agar tiap kulihat barat,
kutahu engkau tempatku lekat.
@40135, kalau kau angkuh bukan berarti aku rapuh.
Tubuhku ini menyimpan segala ingatan purba,
meski kau enggan percaya.
Kau kan tersesat dalam tiap lekuknya,
meski ribuan kali pertemuan kita.
Simpan rahasia ini untukmu saja.
Bahkan aku akan baik hati berlagak lupa.
Betapa engkau pernah padaku, suatu waktu...
terjungkal pada dadaku yang mengkal
terbuai pada rambutku yang tergerai
terjerat pada lenganku yang liat
terbius pada kulitku yang halus
tak berkutik pada jemariku yang lentik
mabuk pada pinggulku yang meliuk
tergelincir pada betisku yang lencir
terpikat pada bokongku yang mencuat.
Aku pun takkan teriak
tentang pernah kau retak waktu tapakku t'lah menjejak.
Tak perlu kau balas teriak
tentang pernah aku lantak waktu jejakmu tak tampak.
Engkau mungkin lupa, tubuhku perempuan.
Tanpamu aku bisa bertahan sendirian.
@40135, terang bulan perempuan *itchybitchywitchy mode:on *
Aku mengaku pada kalian... aku perempuan.
Tak tertaklukkan. Liar di jalanan.
Tak berumah. Sekedar pindah singgah.
Sepadan dengan betina. Samasekali bukan wanita (apalagi waria, hahahaha).
Denganku yang perempuan akan kalian kenal badan.
Panas meretas. Detak menggelegak. Memicu pacu.
Tidurku tak berkawan. Jagaku tak bertuan.
Jangan kalian sentuh.
Kalian mungkin melenguh!
Kalian pasti melepuh!
Jangan kalian catat.
Aku takkan ingat.
Aku mampir sekelebat.
Sementara rindu kalian kuyup,
jantungku bahkan tak berdegup.
Mari, tidur bersisian.
Dalam igau kalian aku akan sedikit menyapa, dan akan banyak meraba.
Aku perempuan. Sudahkah kita berkenalan?
@45363, try to get back the sanity of me.
She lost her magic, because now she's a pain-addict.
She can only speak and write of how in vain she has been waiting for nothing.
Hey!
Can you tell what should be happening,
if only she stopped right there,
turning around,
headed for a new path?
Will she still be safe?
Will she still put hope for you to come running and catch her?
Let me tell you what's going to happen that way.
She will still be hurt. She will still wait.
You won't even care. You never do.
I guess "No." is the absolute answer for her, then.
Anyway she did not stop and turn around.
I tell her to look away,
but all she did was stubbornly look back and dragged herself back.
Journey back to the past that always reminds her
how the cut forever lasts.
Whether I tell her what it takes to let you go,
she's trapped between.
Shall she stay? Shall she walk away?
I try to understand,
the first cut is the deepest.
Yet for her, the last cut is more deeper
if it's done by the same precious person.
No matter where she'd go, the ghost of you will follow.
This she can't deny.
She cannot cry because her tears are dry.
"Time heals all wounds.", they say.
Yet shiver and tremble still come, uncontrollable, haunting her chosen way.
She should let go of the hatred past, I say, and open up to present love she's had.
@40395, bedanya tipis antara moving on dan running away.
How can you tell that you've moved on?
I say... I can tell by your breath, by your heartbeat. It is intense, rapid... and most of all, alive.
No. You're not moving on. You stay in the past.
We're not talking about love. We're talking about lust. Because all we had is just chemistry.
Over and over again.
Then again, we're simply human beings... of flesh and blood.
We surely can be hurt by a single word.
Some things are just better left unspoken. Even not spoken at all.
We think that we moved on. In fact, we're not.
You're my unfinished business. That's all I can admit.
At least I am aware, maybe that's why I am still alive.
'Though I know for sure, it's not worth the pain to exchange what I HAVE with what I HAD.
Jadi, jangan berpaling.
Jangan palingkan mukamu, jangan butakan matamu, jangan tulikan telingamu.
Aku di sini. Hidup dan berdegup (juga pelanpelan meredup).
Apa lagi yang kau tunggu?
Tak perlu tahuntahun lewat untuk tahu apa yang masih lekat.
Saying "You're not that good."
actually means "You're too good to be true that I can't even be with you."
Again: I am alone and you are alive.