Sunday, January 31

Sunday, January 31, 2010 - No comments

~ Halte ~

@40161, lantang saja kalau benar iya.




Ceritakan padaku,
bagaimana rasanya menjadi pejalan
singgah dari satu tempat ke tempat lain tanpa tujuan.
Supaya aku tahu,
bagaimana rasanya bepergian
tanpa beban di pundakmu... ketika yang tampak bagiku hanya menjauhnya punggungmu.


Kuceritakan padamu,
bagaimana rasanya menjadi pelarian
pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa kepastian.
Supaya kau tahu,
bagaimana rasanya berkejaran
dengan lubang di hatiku... ketika yang tampak bagimu hanya mendekatnya rengkuhku.


Persimpangan:
sementara waktu terhenti
sementara jarak terbatasi.


Bagaimana kita bertukar kisah
tanpa harus bertukar perjuangan air mata dan darah?


Bukan perhentian. Kita hanya saling sapa dalam sebuah cerita pengembaraan.


Jadi,
sebelum ada di antara kita yang pergi mencari kayu
baiknya dipastikan dulu apakah kita sudah punya tungku.


Agar tak terbuang siasia hati kita menantinanti apa yang tak pasti.



Saturday, January 30

Saturday, January 30, 2010 - No comments

~ Menunggu Sabtu, Menanti Pagi ~

@40131, curtains up for another theatre of the mind.


Hai!


Kuharap senyumku cukup hangat
untuk kaujabat
pada dini hari yang pekat.


Apa kabarmu?


Kuharap langit dan matahari
yang kupajang hatihati
dapat mencerahkan pagi.


Aku baik saja. Bahagia sebisanya.
Kesepian? Tentu.
Sendirian? Selalu.


Mari sini...
saling menemani,
sementara pun tak apa
sebab waktu tak pernah terduga.


Sampai nanti.
Sampai salah satu pergi.
Sampai salah satu kembali.



Tuesday, January 12

Tuesday, January 12, 2010 - No comments

~ Truth (in your version) ~

@40611, love me the way i want to be loved.




Darah warna apa 
yang mengikat kita jadi saudara?


Sampai tega kaujejalkan racun yang benar nyata,
lantas kauminta aku penuh percaya
bahwa itu obat mujarab bagi mataku yang buta.



Friday, January 1

~ New Step ~

@12790, corazon amantes.




Aku, yang terbiasa lekat...
sekarang harus membiasakan jarak menyekat.
Kau, yang terbiasa bebas...
sekarang harus membiasakan waktu menebas.


Tak masalah lagi siapa lebih penting dari siapa.
Sekarang: kita.


Aku belajar mencintaimu dengan diam,
bagai bara dalam sekam.
Kau belajar mencintaiku dengan lantang,
bagai layang untuk terbang.