Tuesday, June 29, 2004 -
[Legitimate Kinship],[Life Lessons]
No comments
[Legitimate Kinship],[Life Lessons]
No comments
Rules are Made to be Chosen (Tawaran Pemikiran)
"Maaf, nak… Kau tak sempat panggil aku Bunda.
Lagipula aku belum genap 21."
Abortus – @zenitsia (2004)
Namaku Norma. Umurku 21 sekarang. Sudah cukup banyak tahun yang bisa kutoleh ke belakang. Bukan untuk berpegangan pada kerinduan akan masa lalu yang semu, sekedar mengorek pengalaman untuk masa depan. Lagipula aku harus menjenguk anak-anak yang berceceran kulahirkan dari sekian banyak kejadian, untuk kemudian membawa mereka pulang ke rumah kesendirian.
Nakal lahir pada awal masa kanak-kanakku. Dia anak sulung yang kuhasilkan ketika aku menyetubuhi permainan pada jam yang tidak semestinya, memanjat pohon jambu tetangga, dan menceburkan teman lelakiku ke selokan di depan taman kanak-kanak. Nakal juga tumbuh besar pada kegiatan-kegiatan lain yang kulakukan untuk bisa mengenal dunia dengan keterbatasan indera. Orang-orang di sekitarku, terutama orang tuaku sebagai kakek nenek Nakal, tidak terlalu sayang padanya dengan alasan dia banyak merepotkan. Setiap kali Nakal muncul, yang kudapatkan adalah jeweran di telinga atau pukulan di pantat karena melahirkannya.
Menyusul setelah Nakal, anak yang lahir dariku selama masa sekolah adalah Tidak Sopan. Anak keduaku ini kudapat dari mengunci diri di kamar saat keluarga besar datang dan aku sedang enggan berbasa-basi. Tidak Sopan juga muncul dengan kelucuan bayinya ketika aku dicap berkata-kata kotor, padahal aku hanya sedang belajar mengeja nama-nama binatang sesuai EYD dan mencoba berlatih peran untuk mengasah bakat. Dibandingkan Nakal, orang tuaku lebih tidak menyukai Tidak Sopan karena dia selalu membuat malu mereka. Mereka beranggapan lahirnya Tidak Sopan adalah bukti kegagalan mereka mendidik aku sebagai ibu yang telah melahirkannya.
Aneh, Banyak Tingkah, dan Dosa merupakan rekor anak kembar tiga yang kulahirkan pada masa remaja. Sebagai anak kembar, mereka melakukan kegiatan dan mewarisi sifat kakak-kakaknya tiga kali lipat banyaknya. Mereka punya sifat Nakal tiga kali lipat dan mereka juga mirip Tidak Sopan tiga kali lipat.
Aneh lebih dulu muncul pada awal sekolah menengah sebagai hasil dari tingkah laku mengikuti mode dan ingin tampil beda. Aku memadumadankan sekian banyak referensi fashion untuk bisa berekspresi sesuai dengan keinginanku. Yang kudapat bukannya penghargaan akan anak kembar tertuaku itu, yang sebenarnya ingin kunamai Unik, tetapi malah orang tuaku bersikeras memanggilnya Aneh meski mereka tidak lagi terlalu gencar memusuhiku karena kelahirannya.
Banyak Tingkah lahir kemudian, saat aku duduk di bangku sekolah lanjutan. Dia lahir hampir bersamaan dengan Dosa. Aku melahirkan mereka dengan susah payah, sebabBanyak Tingkah dan Dosa membawa perubahan yang cukup besar dalam hidupku ketika lingkungan memaksaku menyembunyikan Dosa. Tidak banyak yang tahu tentang Dosa, bahkan aku sengaja tidak membiarkan kakek neneknya mengetahui lahirnya Dosa.
Banyak Tingkah dan Dosa kudapati ketika aku sedang bersenggama dengan dunia. Aku nongkrong bareng teman-teman, memboroskan uang untuk membesarkan Aneh, mengkhawatirkan kehilangan pacar tapi sering berselingkuh, mulai merokok serta mabuk, meragukan ideologi, dan bahkan tidur dengan lawan jenis kulakukan untuk bisa melahirkan Banyak Tingkah dan Dosa.
Anak-anakku tidak banyak merepotkanku. Meski Nakal, Tidak Sopan, Aneh, Banyak Tingkah, dan Dosa namun mereka adalah bayi-bayi lucu yang kulahirkan ke dunia. Tidak mungkin aku meniadakan mereka, sebab aku ingin mereka bertumbuh kembang sebagai bagian dari diriku yang akan unjuk gigi ke dunia. Maka sebagai bukti adanya aku sebagai bagian terpisah dari duniaku, kulahirkan anak bungsuku dengan penuh kebanggaan yang akhirnya kuberi nama : PEMBERONTAKAN.
Orang tuaku tidak setuju aku melahirkan sekian banyak anak berkarakter buruk, mereka bilang itu bertentangan dengan namaku, Norma. Tapi tahu apa mereka akan kebutuhanku sebagai manusia? Yang mereka tahu adalah kebutuhan mereka sebagai makhluk sosial yang punya ketakutan akan adanya evaluasi negatif dari lingkungan, bukan aku sebagai individu bebas.
.: :.
Lingkungan sosial tidak menerima makhluk individual. Mereka-mereka yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan dipersilakan minggir dan tersisih dengan cara masing-masing ke dalam sektor pribadi. Mereka baru boleh kembali apabila mereka merasa mampu memenuhi tuntutan lingkungan sosial yang dipetakan dalam aturan-aturan berjudul norma.Norma menyeragamkan individualisme. Semua bagian pribadi dicuci bersih dan dipinggirkan untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yaitu atas nama kebersamaan. Kolektivitas. Koloni sosial nan menjijikkan.
Jangan harap manusia lepas dari norma. Selama seseorang masih merupakan bagian dari peradaban yang berbudaya, maka sudah sewajarnya dia mampu menyesuaikan diri dengan norma-tata krama-sopan santun-adat istiadat sebagai panduan bertingkah laku dalam masyarakat.
Pertanyaannya : dimanakah kebebasan individu diletakkan? Bisakah semua norma sosial yang ada kita abaikan dan kita hanya menjalankan pilihan sebagai seorang individu dengan aturan kita sendiri? Kapankah kita bisa menggunakan potensi kita dengan bijak untuk mencapai tujuan pribadi yang mungkin samasekali berbeda dengan apa yang diinginkan lingkungan sosial kita?
Jawabnya : tidak ada dan tidak akan pernah.
Selama kita memutuskan untuk masih menjadi bagian dari sebuah lingkaran sosial, maka selama itulah kita akan kehilangan penghargaan akan individualisme kita. Deindividuasi. Kita melakukan apa yang dituntut lingkungan untuk menghindari evaluasi negatif dan menjilat untuk mendapatkan pujian positif.
Sejauh ini yang banyak dilakukan adalah berkompromi. Menjadi amphibi sosial. Minggir sebagai individu bila perlu menyepi dan melakukan tapa brata. Kembali bersosialisasi ketika merasa perlu keluar dari gua dan butuh dukungan emosional-fisikal dari lingkungan sosial. Bunglon, kasarnya. Dalam konotasi positif, bisa juga bermakna “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”.
Sekarang solusi apa yang bisa ditawarkan lingkungan? Pun atas nama perubahan sosial, percuma saja. Apabila lingkungan hanya memungkinkan amphibi sebagai jalan kompromi dan tidak mengusahakan kolaborasi individu dengan lingkungan sosialnya, maka jangan salahkan kejadian yang akan membawa Norma-Norma yang lain ke usia 21 tahun (usia mandiri secara hukum) untuk mulai mengambil keputusan atas nama individu.
Sebab tiap individu diciptakan untuk bebas memilih sebuah rumah kesendirian, terlepas dari kebutuhannya untuk mengamankan diri dari individualismenya dengan adanya aturan sosial; maka pada saat itu, lingkungan tidak bisa menyesalkan lahirnya Nakal, Tidak Sopan, Aneh, Banyak Tingkah, Dosa, dan PEMBERONTAKAN dari tiap Norma yang ada.
0 comments:
Post a Comment