Thursday, January 02, 2014 -
[Intimate Relationship],[Love Letters]
No comments
[Intimate Relationship],[Love Letters]
No comments
H2. Perahu Kertas, Belajar Tak Melepas
"Dengan saya, kamu tak perlu pergi jauh ke tengah laut hanya untuk melarung perahu kertas berisi cerita-cerita yang tak bisa kausampaikan pada manusia. Dengan saya, kamu hanya perlu ada, Gy."
Remy bilang begitu di tepi Ancol waktu itu. Dia meminta bertemu setelah menemukan selembar surat yang tak pernah dikirimkan Kugy untuk Keenan terselip di buku dongeng buatan tangan yang dipinjamkan kepadanya. Ralat, diberikan. Justri karena itu adalah pemberian, maka Remy merasa di atas angin untuk membuangnya tepat di depan mata Kugy.
Ada yang perih di ujung mata Kugy. Ia pikir mungkin itu air asin yang masuk tak sengaja dari samudera. Tapi bukan. Itu justru air asin yang keluar tanpa sengaja dari pelupuknya, saat Remy mendekat dan mulai memeluk.
"Kamu mungkin sudah ketemu orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segalanya. Sementara saya... Selama ini saya belum ketemu siapa orangnya. Saya memang ketemu kamu. Tapi semua yang kamu lakukan adalah karena saya meminta." kata Remy pada Kugy.
Kugy tahu kemana kalimat ini berujung.
Remy tahu bagaimana reaksi akhirnya.
Tapi kisah ini begitu mudah diterka, begitu sulit dicerna.
"Biarkan saya bebas memilih, Rem. Meski hati tak perlu memilih, namun untuk sekali ini saja saya ingin bebas memilih. Saya tak ingin kamu lepas. Saya sudah cukup puas bermain dengan sekian banyak perahu kertas. Saya butuh berlabuh. Dan buat saya, pelabuhan paling nyaman yang memahami saya lebih daripada saya bisa memahami diri saya sendiri, adalah kamu."
Kugy mengeluarkan perahu kertas terakhir dari dalam saku celananya.
Di kertas itu tertulis, "Selamat tinggal, Nus. Aku akan mengarungi samuderaku sendiri. Tak lagi kepadamu aku harus berbagi. Sebab kini, aku sudah punya Remy."
0 comments:
Post a Comment