Thursday, April 22, 2010 -
[Intimate Relationship],[Life Lessons]
No comments
[Intimate Relationship],[Life Lessons]
No comments
~ Choosing Your Own Kind of Man ~
Para perempuan, aku ingin tahu:
apa batasan kalian untuk berkata "iya" atau "tidak" pada tiap lelaki yang mencoba masuk dan ingin beririsan hidup dengan kalian?
bagaimana kalian akan berkata "iya. terimakasih." atau "maaf. tidak." tanpa membuatnya merasa tersiasia dan membuat kalian merasa bersalah?
Pas ngumpul makan siang tadi, salah satu teman perempuan minta pendapatku tentang gimana cara terbaik untuk bersikap kalo ada 'laki orang' yang PDKT ngajak untuk jalan bareng sebagai pacar. Lantas kubilang dengan tenang, "Sorry, but I don't deal with somebody else's husband. That's my top priority of choosing a partner. Anyway, money support from him doesn't count for me in a relationship."
Mukanya langsung nggak terima, berharap aku bisa ngasi penjelasan yang seenggaknya lebih 'classy' sebagai seseorang dengan gelar S, Psi. Biar aja. Toh gelar juga nggak selalu sepenuhnya kupake dalam berelasi dengan lelaki. Ya maaf kalo ternyata respon pertamaku untuk nanggepinnya justru murni berdasarkan pengalamanku deket dengan berbagai tipe lelaki, terlepas dari aku pernah kuliah di jurusan yang semestinya bisa kasi jasa konseling (gratis, untuk kalangan keluarga dan teman) dengan kewajiban ngasi opini obyektif dan non-bias.
Dari percakapan itu, aku lantas berpikir.
Sebenarnya kami perempuan mungkin sudah punya batasan tentang siapa yang kami inginkan sebagai pasangan. Meski beberapa mungkin tidak jelas atau tidak tegas, tapi kami sungguh punya batas. Dalam beberapa kasus, paling tidak, kami berniat untuk punya.
Take me, for example. So far, I really do not deal with somebody else's lover, or even husband!, in the matter of intimate relationship. Moreover, chasing over his money. That's just so not me. But that's just so my friend. Aha.
Aku pastinya berkeberatan kalau harus berdekatan dengan lelaki yang sudah berpasangan dengan perempuan (atau bahkan sesama lelaki) selainku. Temanku, dalam contoh di atas, tidak. Aku mungkin tidak masalah dekat dengan lelaki yang karakternya sama sekali bertolak belakang denganku. Perempuan lain, belum tentu begitu.
Kami perempuan menetapkan batasan yang berbeda karena kami tidak menginginkan lelaki yang sama. Kecuali Johnny Depp, barangkali, karena sepertinya dia mempunyai semua yang kami inginkan dari seorang lelaki.
Aku akan mentolerir lelaki yang beda agama, berambut gondrong, perokok aktif, minum alkohol sesekali, cuek soal perempuan, solider dengan teman, peduli pada keluarga, punya kecenderungan sulit berkomunikasi, temperamental, dan juga terpisah jarak sejauh 6 jam perjalanan... untuk menjadi pasanganku.
The big question is : why?
Sebab lelaki itu mampu mengajakku menikah dan bukan berpacaran (di umurku, hal itu jadi salah satu prioritas - kalau tidak boleh dikatakan sebagai tujuan utama). Sebab lelaki itu mau belajar dari kesalahan supaya tidak tidak mengulanginya lagi di lain waktu. Sebab lelaki itu mau dan mampu mencintaiku, serta mau dan mampu menunjukkan itu. Dan tentu, padanya aku pun begitu. Sebab... aku sudah cukup dengan diriku dan yang perlu dia lakukan hanyalah melengkapi celahcelah yang tak mampu kuisi, sendiri.
The simple answer would be : why not?
Beberapa di antara kami perempuan mungkin punya batasan-batasan lain yang bukan cuma satu atau dua, tetapi berjutajuta kriteria kalaupun lelaki ingin dekat dengannya. Dan percaya atau tidak... tidak ada di antara kami yang punya kriteria yang benarbenar mirip satu sama lainnya tentang bagaimana lelaki yang sebenarnya kami inginkan sebagai pasangan. Jadi, yang harus kalian para lelaki lakukan adalah mencocokkan kriteria itu dengan apa yang kalian punya, sebelum kalian punya nyali untuk dekat dengan kami.
Lanang menang milih, wedhok menang nolak, begitu kirakira aturan Jawa (tolong jangan tanyakan itu aturan Jawa sebelah mana, karena aku tidak tahu pastinya) yang artinya kirakira, "lelaki berhak memilih dan perempuan berhak menolak".
Sampai sebegitunya? Oya, tentu.
This is a matter of recruitment and placement, dude! Putting the right man at the right place in the right time... in order to optimize his potentials as human being.
(gosh, now I'm sooooo psychological-minded! *big grin*)
Jadi, para perempuan...
apa saja batasan kalian dalam menentukan dengan siapa kalian akan berpasangan?
0 comments:
Post a Comment