Sunday, February 09, 2014 -
[Intimate Relationship],[Love Letters]
No comments
[Intimate Relationship],[Love Letters]
No comments
Dari Mata Elang Rimba
Hari sudah senja saat kau ajak aku duduk berdua di beranda.
Lampu belum dinyalakan,
sebab musim penghujan begini laron selalu mengerumuni.
"Mari. Kukisahkah padamu sebuah dongeng, tentang elang rimba," katamu waktu itu. Sebelum memulai kisahmu, kau bertanya, "Apa saja yang sudah kau tahu tentang elang liar yang hidup di rimba raya?". "Tak banyak," sahutku. "Aku tahu elang punya penglihatan yang tajam. Aku tahu elang karnivora. Aku tahu elang mulai langka, jadi harus dilestarikan."
Lalu aku terdiam. Ternyata benar aku tak banyak tahu tentang elang.
"Tahukah kamu, bahwa elang binatang penyendiri?", tanyamu setelah jeda.
"Tidak. Tapi itu mungkin saja," aku mengangguk ragu. "Tahukah kamu, bahwa elang takut pada burung lain yang lebih kecil dari ukuran badannya?", kau bertanya lagi. "Tidak. Bukannya elang itu berada di puncak rantai makanan?" Hati-hati dan ragu-ragu aku balik bertanya. Kau terdiam. "Kau ini... mau mendongeng atau mau menguji pengetahuanku?" Aku mulai senewen lalu membuang muka, menatap bunga pohon mangga yang putiknya mulai bermunculan. Kau masih terdiam.
"Feisty Kingbird, namanya." katamu setelah sekian jeda.
"Apa...?" aku tersadar dari lamunan. "Feisty Kingbird. Nama burung kecil yang ditakuti oleh elang. You can Google it." kamu melanjutkan tanpa ekspresi berarti.
"Tahukah kamu, bahwa elang akan selalu kembali ke sarang dimana ia dibesarkan..." kalimatmu mengambang, tak jelas apakah pertanyaan ataukah pernyataan. "Para pemburu mengandalkan kesetiaan elang kepada sarangnya. Seberapapun jauhnya elang terbang, di masa dewasa nanti ia akan kembali ke sana. Tak peduli bahaya apapun yang mengancam. Tak peduli bahwa itu menjadi titik lemahnya." suaramu semakin hilang, seperti kau tak lagi ada di sini bersamaku. Seperti kau sedang tersesat di belantara entah mana, bersama dongengmu tentang elang rimba.
Aku dan kau terdiam, kali ini sama-sama memandang bunga pohon mangga dan membayangkan seekor elang terbang menembus hutan, lalu nyangsang di antara rimbun daun basah yang terkena rintik hujan.
"Kamu itu... awalnya Feisty Kingbird buatku yang selama ini elang rimba.
Aku takut ada di dekatmu. Takut hilang arah, takut tak tahu lagi ke mana tujuan, takut lupa di mana sarangku, takut hanya ingin bersamamu. takut jadi kerdil karena hilang kemampuan untuk terbang akibat terlalu nyaman berada di sarang. Makin lama, aku tahu... kamu justru sarangku. Tempat dimana kesendirianku, kebinatanganku, kekuasaanku, dan segala yang disegani orang dariku jadi tak ada artinya apa-apa. Tempat kemana aku bersetia dan bersedia menempuh segala bahaya untuk tetap denganmu. Biarkan pemburu datang!! Aku tak lagi punya alasan untuk memelihara rasa takut. Cinta yang ada... cukup besar untuk kita berdua."
Di beranda, senja makin lelap dan langit bertambah gelap.
Tak perlu sorot lampu untuk tahu,
ada rona merah hangat yang pelan menjalar ke pipi kita.
0 comments:
Post a Comment